Senin, 08 Februari 2010

POHON TERCEKIK


Bagi para pengguna pohon di taman atau di pinggir jalan, baik untuk menggantung poster, pamflet, iklan, spanduk, atau lainnya harap mulai sekarang usahakan untuk mencopot lagi dengan benar semua alat penggantung tersebut setelah usai. Pohon tak bisa membersihkan sendiri paku paku, tali tali, kawat yang digunakan untuk kepentingan publikasi jalanan anda.
Dengan bertambah besarnya diameter batang pohon, ikatan ikatan yang lalai dilepaskan akan mencekiknya seperti terlihat foto diatas. Sementara paku paku yang tertinggal akan ditelan batang dan akan merusak mata gergaji kelak bila pohon perlu dipangkas atau dipotong untuk dimanfaatkan kayunya.

Selasa, 02 Februari 2010

PERENCANA KOTA

foto: Puri Mutiara Pluit dengan sebuah icon baru bagi pantai kota Jakarta

Mengapa kebanyakan perencana kota berlatar belakang pendidikan arsitektur atau bahkan arsitek? Bahkan sepertinya ada peraturan tak tertulis bahwa seorang perencana kota semestinya punya latarbelakang arsitektur.
Apakah kita bisa mengatakan bahwa kota adalah " scale-up" dari sebuah bangunan?Analoginya bukanlah : "apakah sebuah kalkulator bisa di upgrade menjadi sebuah komputer", tetapi : "apakah kota cuma sekedar kumpulan ribuan, bahkan jutaan bangunan"? Dari segi seni pengaturan ruang fisik mungkin masih bisa dimengerti. Ada kualitas keahlian yang dibutuhkan dalam merancang setidak tidaknya sudut suatu kota yang artistik dan nyaman.Tetapi apakah kota cuma sebuah kompleks ruang 3 dimensi kosong yang kemudian diisi oleh kehidupan sekelompok manusia?
Bagaimana dengan pendapat bahwa sebuah kota adalah sebuah entity biologis terbesar yang dikenal manusia. Dia lahir, tumbuh, berkembang kemudian mati. Apakah semua tadi bisa dirancang? Bagaimana merancang sebuah kelahiran, bagaimana merancang pertumbuhan dan perkembangan, bagaimana merancang sebuah kematian?

Kota umumnya punya jejak rentang waktu jauh kebelakang dan jauh ke depan. Namun bila ada kota yang dirancang dari nol, cobalah perhatikan contohnya: Brasilia dan Chandigargh akan segera terasa memang kota kota itu bagai sebuah cangkang raksasa yang disiapkan untuk sekedar dihuni, bukan untuk menjadi suatu kesatuan organik yang bisa bergerak sendiri.

saptono 3 februari 2010

"A city is alot of more grows by itself rather than planned"

Jumat, 25 Desember 2009

IZIN UNTUK TIDAK ROBOH

Sebuah bangunan lama di jl. Kalibesar yang roboh sendiri karena di lalai kan

Berita runtuhnya bangunan tambahan toilet di pasar Tanah Abang berulang ulang menyoroti ketiadaan Ijin Resmi, seolah olah kalau pakai izin, kecelakaan yang memakan korban itu tak terjadi. Mungkin ada benarnya, tapi kalau di balik, apakah bila ada IMB nya tidak akan ada kecelakaan? Lebih jauh lagi Apa kalau tidak ada kecelakaan pasti punya IMB? tidak juga kan?

Jadi susah nih menentukan kapan harus berpikir nominal kapan harus berpikir real.

Turut berduka cita buat para frontliner di bidang Arsitektur alm. Ridwan Endang, Mohammad Heri, Abdul Hafid, Agung dan korban lainnya.

Kamis, 03 Desember 2009

RELUNG-RELUNG NAN MENAWAN DI DINDING

Para perancang bangunan sejak permulaan zaman telah mendapatkan bahwa relung-relung di dinding ( niche )yang secara tak sengaja terjadi merupakan suatu featuredimana banyak hal bisa dilakukan untuk memperindah ruangan. Di kemudian hari relung-relung tersebut sengaja diciptakan untuk hiasan dinding sekaligus digunakan sebagai tempat untuk meletakan secara khusus patung dari seseorang tokoh . Selain itu bisa juga untuk menempatkan sebuah lukisan sehingga keberadaan lukisan tersebut semakin signifikan . Atau berfungsi sebagai tempat lampu dinding ,atau untuk meletakkan benda benda seni yang perlu ditonjolkan. Memang terjadi keanehan disini , relung yang menjorok kedalam justru menonjolkan apapun yang berada didalamnya. Tetapi bisa juga niche dibiarkan kosong begitu saja sebagai artikulasi ruang sepertipada karya-karya arsitektur Klasik dan Gotik dulu. Candi-candi di Jawa Tengah juga meletakan patung para Dewa di situ untuk menunjukan penghormatan kepada dewa-dewa itu. Tentu saja relung-relung itu sendiri dirancang secara apik sehingga sudah dengan sendirinya merupakan sebuah hiasan. Dulu ketika dinding istana atau kenisah masih berupa susunan pasangan batu alam tebal ( bisa sampai semeter), relung-relung ini dengan mudah bisa dibuat untuk memberi aksen pada dinding yang luas dan monoton.Secara fisika bangunan relung relung dalam dinding juga bisa memperbaiki akusitik ruang. Patung atau benda seni lainnya yang ditempatkan didalamnya akan membuat dinding istana semakin menawan dan sekaligus memberi pesan dan kesan tentang pentingnya ruangan yang diberi relung berhiaskan benda seni. Kini dinding bangunan rumah anda umumnya punya ketebalan cuma 15 cm. Tentu tak mungkin dengan sengaja kita menciptakan relung- relung kecuali yang berukuran kecil dan dangkal yang biasa digunakan untuk tempat sabun dan shampoo di kamar mandi.Tetapi ada sedikit trik yang bisa anda ciptakan. Misalnya dengan membuat dinding berdenah huruf S di antara dua ruangan sehingga tercipta relung berdampingan tapi bertolak belakang di kedua sisi ruang, dan biasanya relung tersebut lebih dimanfaatkan untuk keperluan praktis berupa lemari pakaian, rak buku, atau rak perhiasan.Atau anda bisa juga menciptakan lampu-lampu apik yang ditempatkan atau yang menyatu dengan relung di rumah anda.
Saptono Istiawan SK IAI, 9 Januari 2008

Jumat, 20 November 2009

PINTU PINTU YANG SEHARUSNYA SEBUAH PINTU


Pintu punya fungsi-fungsi yang kontradiktif, melindungi dan mengundang. Menutup dan menyambung.














Rabu, 18 November 2009

SEBUAH USULAN DARI BOGOTA


Kemacetan di Jakarta buat saya sebenarnya mengherankan dalam satu hal : Mengapa pengendara kendaran bermotor begitu sabar atau begitu tahan mengalaminya? Atau begitu pasrah tak ada pilihan lain yang layak?
Kompas Rabu minggu lalu 11 November 2009 menurunkan berita yang mungkin sedikit menjelaskan.
Mantan walikota Bogota di Kolombia yang juga perintis Busway Enrique Penalosa pada forum Jakarta Sustainable Convention mengusulkan pada Pemprov DKI agar ( membuat kebijakan umum) mempersempit jalan dan memperlebar trotoir. Menurutnya kebijakan ini telah di terapkan di Bogota dan ia nilai cukup berhasil .
Semestinya para yang berwenang di sistim transportasi di DKI menanggapi dengan serius usul terobosan ini dengan melakukan penjajagan, penelitian dan percobaan atas hal ini.
Pada kapasitas maksimumnya trotoir mungkin punya kemampuan menyalurkan orang per meter lebar berlipat dibanding jalan, mengingat di trotoir satu orang hanya membutuhkan 0,8 m2 sementara dijalan dengan rata rata penumpang mobil 1,8 membutuhkan 6,3 m 2.

Sayang sekali , menurut Gubernur Fauzi Bowo seperti yang ditulis dalam berita itu, saran itu masih sulit diterapkan di Jakarta karena rekayasa sosial untuk mengubah budaya warga agar meninggalkan kendaraan pribadi tidak dapat dilakukan secara drastis.

Sebenarnya saya tak tahu, berita ini menjelaskan atau malah menggelapkan.

Selasa, 25 Agustus 2009

JEJAK ARANG (carbon footprint) DARI TOILET

Majalah Newsweek edisi ganda 24 dan 31 Agustus 2009 menurunkan sebuah artikel pendek yang cukup menarik di halaman 57, yang berjudul :" Wiping is Washed Up" oleh Andrew Romano.

Inti ceritanya adalah bahwa menurut survey , separuh dari para pengguna kertas toilet (KT) di Amerika Serikat merasa tidak begitu bersih sekeluarnya dari WC, padahal para penggunaTP di seluruh AS menghabiskan 36.5 miliar gulung KT per tahun. Jumlah KT itu membutuhkan 15 juta batang pohon ,17.3 tera watts ( 17.3 juta mega watt ) listrik dan kurang lebih 473 miliar gallon (1790 miliar liter = cukup untuk mengisi bak air berukuran lebar 10 km , panjang 10 km dan dalam 17,9m) air per tahun untuk membuatnya.

Penggunaan bidet atau pancuran WC, tentu akan jauh lebih menghemat dan konon lebih bersih.

catatan: ini berarti tiap gulung KT membutuhkan 400 watt listrik dan 495 liter air untuk membuatnya dan 1 pohon diperlukan untuk bahan mentah 400 gulung KT

Rabu, 03 Juni 2009

KOTA TAMBANG SECARA HARAFIAH

Bargas pembawa batubara sedang ditarik ke hilir sungai Mahakam
foto: Lina Alwi

Area pertambangan yang berhimpitan dengan wilayah hutan lindung sudah sering kita dengar. Dan selalu mudah diduga, hutan lindung selalu yang di nomor duakan. Tetapi koran Kompas hari Minggu 31 Mei 2009 memberitakan di halaman 3 sesuatu yang sulit dipercaya. 71% (50.808 ha) wilayah kota Samarinda ( 71.823 ha) sudah dialokasikan buat tambang batu bara dan 38.814ha =54% luas Ibu Kota propinsi yang berpenduduk 608.000 jiwa itu sudah benar benar di gali buat menambang bahan energi yang relatif murah tersebut.
Saya jadi ingin tahu gimana rupanya kota Samarinda jika dilihat dari udara. Barangkali bisa mengilhami satu jenis tatakota dan urban landscape yang orisinal.

Sabtu, 18 April 2009

NANO MEMORY

If it wasn't spoken, it was written.
If it wasn't either, it was recorded and filmed
Life is nothing but memories upon memories.
Saptono


Sudah kita ketahui bahwa memory pada otak kita punya banyak ragam: ada memory jarak jauh, menengah dan pendek.
Tetapi mungkin belum banyak disadari bahwa ada memory yang sangat pendek yang merekam sesuatu yang terjadi sangat cepat yaitu dalam hitungan nanodetik.
Apa gunanya?
Sangat penting. karena tanpa memory ini indera kita terutama penglihatan dan pendengaran menjadi tak berfungsi. Mengapa?
Secara mendasar, semua eksistensi di bumi dan langit terikat dengan ruang dan waktu.
Karena itu semua eksistensi sehubungan dengan waktu betapapun diamnya, sebenarnya mengalir bersamaan dengan waktu.
Jadi seperti kalau kita hendak minum dari curahan hujan kita harus menampungnya dulu sebelum bisa meminumnya. Tampungan itu dalam indera kita berbentuk memory tepatnya adalah sensory memory.

Analognya adalah tampilan dalam monitor komputer, bila tak dilengkapi dengan RAM akan blank.
Tanpa memory penglihatan kita tidak bisa menangkap gambar sekuel seperti pada gambar hidup.

Soal sensory memory ini pertama kali di ekplorasi oleh George Sperling di tahun 1960

Pengertian tentang nanomemory ini tentu akan memperdalam pemahaman kita tentang ruang arsitektural sebagai sesuatu yang dipersepsikan oleh daya penglihatan kita.

Saptono 18 April 2009

lihat juga : http://en.wikipedia.org/wiki/Memory

Minggu, 05 April 2009

GURU KENCING BERDIRI


Pepatah Guru kencing berdiri, murid kencing berlari kita semua sudah tau artinya sejak dibangku sekolah dasar.Tetapi makna kata demi katanya membuat saya agak terganggu. Terutama bila kita mendesain toilet umum di bagian urinoirnya.
Sampai ini yang namanya urinoir / tempat kencing khusus pria selalu dirancang untuk penggunaan berdiri. Kalau kita hubungkan dengan pepatah diatas, kencing berdiri adalah tindakan tidak patut paling tidak untuk suatu masa di waktu lampau (saat pepatah ini pertama diperkenalkan) . Jadinya sekarang apakah pepatahnya harus di revisi atau desain urinoir harus dipertimbangkan lagi atau bahkan harus dihilangkan dan gunakan saja closet untuk buang air kecil seperti yang saya lakukan dirumah karena menurut saya kencing duduk lebih sehat dari pada berdiri, paling tidak saya rasakan lebih tuntas). Mudah mudahan tak ada yang beranggapan bahwa pepatah itu hanya berlaku untuk guru perempuan.
Saptono 31 JUli 2008

Selasa, 10 Februari 2009

MACHU PICCHU


foto 1. Susunan batu biasa foto2.Susunan batu yang lebih halus Arsitektur pada galibnya adalah keterampilan batu.

foto.3. 13 Hairpin menanjak 450 meter yang harus ditempuh dengan bis khusus dari stasiun kereta api terakhir,sebelum akhirnya mencapai Machu Picchu
foto4. Salah satu sudut permai

MACHU PICCHU adalah sebuah estate kuno yang amat terkenal terdiri dari 100 unit hunian, dilengkapi dengan segala kebutuhan hidup untuk kira-kira 1000 orang.
Machu Picchu terletak diketinggian 2400 meter diatas permukaan laut di bagian tropis pegunungan Andes di negara Peru Amerika Selatan.
Apa keistimewaaan dari Machu Picchu in?
Machu Picchu bagaikan sebuah kota kuno yang biasanya menarik para ahli arkeologi. Didirikan oleh seorang penguasa bangsa Inca yang bernama Pachacuti di tahun 1450 Masehi dan dihuni dan dipergunakan selama kurang dari 100 tahun. Sesudah itu Machu Picchu menjadi sebuah kota yang hilang yang hanya meninggalkan jejak mithos dan khabar burung belaka. Penjajah Spanyol yang masuk ke wilayah Inca ini pada tahun 1532 memang berusaha mencari kota-kota tua yang mereka dengar legendanya, untuk menjarah emasnya. Namun sampai enyahnya mereka dari Amerika Selatan, orang Spanyol itu tak pernah berhasil menemukan kota itu walaupun sempat merampas dan menduduki Cusco ibukota bangsa Inca yang terletak hanya 112 km dari Machu Picchu.

CONTOH BAGAIMANA SEBUAH KOTA LAHIR DAN BAGAIMANA SEBUAH KOTA MATI

Machu Picchu baru ditemukan secara kebetulan pada tanggal 24 Juli tahun 1911, bukan oleh pencari harta karun tetapi oleh seorang explorer-arkeolog Amerika bernama Hiram Bingham.
Penemuan sebuah “kota” kuno bagi seorang Arkeolog adalah sesuatu yang luar biasa menggembirakan . Bagaimana sebuah kota lahir, bagaimana sebuah kota mati, Macchu Picchu hunian yang berusia lebih dari lima abad yang ditemukan dalam keadaan nyaris utuh seharusnya bisa menyediakan gambaran yang amat deskriptip buat arkeologi. Namun ternyata Machu Picchu malah memunculkan lebih banyak pertanyaan dari pada jawaban. Fungsi Machu Picchu misalnya, para ahli hanya bisa sepakat bahwa Machu Picchu merupakan tempat tetirah bagi para kaum bangsawan untuk menghindari musim dingin di di kota Cusco (3420 m diatas permukaan laut/ jadi pasti lebih dingin dari Machu Picchu yang "hanya" 2400m). Tempat tinggal mereka sebenarnya. Tetapi mungkin juga tempat ini juga dipergunakan sebagai pengawas perbatasan karena tempatnya memang dekat dengan perbatasan wilayah kerajaan Inca waktu itu. Bisa juga sebagai tempat untuk mengamati bintang yang berhubungan dengan religi karena dilengkapi juga dengan semacam observatorium dan dua buah kuil ( kuil Matahari
dan kuil Condor ). Bisa juga sebagai tempat persembunyian bagi golongan elit Inca, karena Machu Picchu terletak sangat tersembunyi, bertengger diatas punggung dua gunung terjal yaitu gunung Huaynapicchu (“puncak muda”) dan Machu Picchu (“puncak tua”) dan dikelilingi dengan tebing curam setinggi 300m.

KEPIAWAIAN ARSITEKTURAL
Tetapi bagaimanapun Machu Picchu memberikan begitu banyak pesona seperti pemandangan yang luar biasa. Penataannya sebagai sebuah tempat hunian yang mandiri di tempat terpencil dan curam, segera mengundang kekaguman bahkan bagi seorang ahlipun. Juga kita segera menangkap kepiawaian bangsa Inca dalam ilmu bangunan. Dinding dinding hampir semua bangunan dibuat dari batu yang disusun secara eksak. Batu besar ditempatkan dibawah dan yang kecil disusun diatas.

KEBIJAKSANAAN MELINDUNGI SITUS ARKEOLOGI TAK TERNILAI DARI "KERUSAKAN" TURISME

Namun perlu juga dikagumi tentang kebijakan pemerintah Peru yang membiarkan Macchu Picchu tetap terpencil meski terbuka untuk turisme. Oleh mereka tak dibuat jalan mobil yang langsung menuju Macchu Picchu yang niscaya akan membuat Macchu Picchu rusak. Macchu Picchu hanya bisa dicapai dari kota Cuzco ( 170km selatan Lima ibukota Peru) dengan menggunakan kereta api khusus. Itupun harus disambung lagi dengan menggunakan bis khusus lagi untuk menanjak setinggi 450 meter bertikungan 13 hairpin Sebelum mencapai Macchu Picchu itu sendiri. Machu Picchu pantas dietapkan sebagai salah satu warisan dunia oleh PBB. Bahkan beberapa dekade yang lampau para arsitek diseluruh dunia memilih tempat ini untuk mengeluarkan semacam deklarasi untuk para arsitek dunia yang dikenal sebagai Kesepakatan Machu Picchu.
saptono Istiawan 17 Des 2005/ 10 Maret 2005
kredit foto: 1 Daniel weber,2 Einoalve, 3 Shigesato, 4 Miguel Nieto .
courtesy to google earth.
Pernah dimuat dalam majalah PROJEKSI







Selasa, 20 Januari 2009

PASCA TERBAKARNYA TANGKI NO 24


Kompas Kemarin 20 Jan 2009, memberitakan tentang adanya sebuah usulan muncul dalam suatu rapat koordinasi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah, pasca kebakaran Depo BBM Plumpang.
Usulannya adalah dibutuhkan suatu zona steril 200 m disekeliling depo yang berluas 48.3 ha itu.
Sebuah usulan yang jitu pastinya. Tetapi jadinya usulan itu adalah usulan yang proses munculnya memakan biaya teramat banyak : sekitar 15 miliar rupiah (pernyataan sementara tentang kerugian terbakarnya tangki 24 tersebut) ditambah satu korban petugas Satpam tewas bernama Zaenuddin, belum terhitung kerugian kerugian lain yang belum di asses.
Usulan tersebut baik dan sebaiknya pemerintah pusat langsung setuju, tetapi usul tersebut sebenarnya sudah harus diaplikasikan dari dulu pada saat perencanaan dan perancangan depo tersebut karena secara umum hal ini tentu sudah menjadi standard perencanaan dan perancangan. Apalagi bagi sebuah penataan kota.



Suatu gambaran bahwa sebuah gagasan yang dituangkan dalam suatu usulan bisa berbiaya nol dan bisa juga memerlukan banyak biaya untuk muncul di benak kita.
Tergantung…………..
Tetapi yang penting kita harus selalu belajar dari pengalaman yang katanya memang selalu berbiaya tinggi.
Saptono 21 Januari 2009

Rabu, 03 Desember 2008

BERPIKIR RINGAN DALAM MENDESAIN




Sehubungan dengan kejadian-kejadian gempa belakangan ini tentu sedikit banyak akan membuat kita bertanya kepada diri sendiri: seberapa jauhkah rumah yang kita tinggali bisa melukai kita dan keluarga seandainya terjadi gempa?
Jawabannya tergantung pada dua hal: Pertama adalah seberapa besar kekuatan dan lamanya gempa yang melanda lingkungan dimana rumah kita berada. Kedua, seberapa baik respon struktur rumah kita dalam menghadapi gempa.
Meramalkan kapan datangnya gempa dan seberapa besarnya gempa tentu di luar kemampuan kita, demikian pula merancang suatu bangunan sedemikian rupa hingga mampu menghadapi gempa. Namun tentu kita mengharapkan dalam keadaan terburuk setidak-tidaknya bangunan masih berdiri sedemikian rupa sehingga Anda dan keluarga masih punya cukup waktu untuk melarikan diri keluar dari rumah sebelum rumah runtuh.
Untuk itu apa yang bisa kita lakukan adalah mulai memikirkan sesuatu yang bisa mengurangi bahaya yang dibawa dan dibangkitkan oleh gempa. Salah satunya adalah dengan mulai berpikir ringan dalam membangun atau merenovasi rumah. Berpikir ringan artinya kita mulai mencari-cari bagaimana caranya supaya bangunan kita secara sebagian-sebagian atau secara keseluruhan menjadi lebih ringan namun tanpa mengurangi kekuatan dan kekokohan konstruksinya. Persis seperti perancang pesawat udara yang berusaha sedemikian rupa supaya seluruh bobot pesawatnya dibuat seringan mungkin. Hanya kalau pesawat udara yang ringan dimaksudkan agar performanya bisa bertambah dengan berkurangnya bobot, bangunan yang ringan akan lebih tahan gempa karena secara langsung gaya inersia yang diakibatkan goyangan gempa juga tidak besar sehingga konstruksi rumah bisa lebih bertahan. Di lain pihak juga runtuhan bagian-bagian bangunan yang lebih ringan tentu lebih kurang bahayanya bagi orang-orang yang tertimpa di bawahnya.
Lalu apa saja yang bisa membuat satu bangunan lebih ringan tanpa mengurangi kekuatan dan kekokohan yang dibutuhkan?
Sebelumnya perlu ditekankan di sini bahwa berpikir ringan tentu juga punya konsekuensi-konsekuensi. Antara lain adalah: bangunan rumah tinggal Anda bisa menjadi lebih mahal, walaupun bisa juga menjadi lebih murah. Atau dengan bahan-bahan pengganti lebih ringan, mungkin saja kita akan mendapatkan sifat-sifat bahan bangunan yang lebih kurang sifat perlindungan keamanannya. Juga mungkin saja umur bangunan Anda menjadi lebih pendek atau pemeliharaanya menjadi lebih mahal.
Sebagai contoh pertama adalah atap. Kalau kita menginginkan penutup atap ringan tentu kita harus menggantikan bahan penutup atap jenis tanah liat yang dibakar (genteng) dengan bahan-bahan substitusi yang lebih ringan seperti yang berbahan dasar lembaran bitumen atau lembaran logam tipis. Tentu bahan-bahan substitusi ini mungkin lebih mahal atau lebih kurang nilai estetikanya atau lebih menyalurkan panas matahari kedalam bangunan atau lebih pendek umur kerjanya.
Demikian juga konstruksi atapnya. Kalau kita menggantinya dari konstruksi kayu menjadi konstruksi ringan baja tentu akan menambah biayanya. Karena, secara umum, saat ini konstruksi baja masih lebih mahal daripada konstruksi kayu. Walaupun kecenderungan perbedaan harganya mulai menipis akibat meningkatnya harga kayu disatu pihak dan semakin meluasnya penggunaan konstruksi baja dilain pihak yang mengakibatkan penurunan harganya.
Juga penggunaan lantai parket di lantai atas misalnya, menggantikan lantai keramik yang lebih berat tentu akan menambah biaya juga. Atau bahkan anda membuat seluruh lantai atas rumah anda dari konstruksi kayu atau baja yang lebih fleksibel menghadapi gaya lateral (horizontal) akibat gempa daripada konstruksi beton, yang tentunya akan menambah biaya baik pembuatannya maupun pemeliharaannya.
Contoh lain adalah penggunaan dinding partisi ringan yang terbuat dari bahan gypsum atau lempengan-lempengan (board) buatan dari bahan-bahan non organik dengan rangka alumunium, menggantikan dinding bata atau batako. Tentu akan menimbulkan pertanyaan tentang keamanan dari dinding tersebut yang mudah dijebol, disamping ketahanan terhadap kelembaban dan keawetannya dan juga tingkat perlindungan bagi keprivasian.
Pendek kata, kalau kita ingin “berpikir ringan”, kita harus siap juga untuk berkompromi dalam berbagai hal seperti contoh di atas. Jadinya Anda harus “berhitung” secara menyeluruh tentang keuntungan dan kerugian dalam “membangun ringan”. Termasuk pengolahan estetika dan tingkat risiko gempa dan karakteristik lingkungan dimana rumah Anda berdiri. Namun ini tentu sudah menjadi tugas arsitek dan perancang teknis yang Anda sewa untuk melakukannya dengan benar. Bagian Anda adalah merubah cara berpikir tradisional yang umumnya “berpikir berat” dalam membangun rumah tinggal, menjadi “berpikir ringan” untuk mencapai tujuan penjagaan keselamatan Anda, yang tentunya mengharuskan Anda siap menerima segala konsekuensi-kosekuensinya.
Ada satu hal lagi yang harus dipertimbangkan. Secara keseluruhan mungkin harga konstruksi bangunan Anda bisa lebih murah karena 2 sebab.
Pelaksanaan pembangunan lebih cepat disebabkan, karena bahan-bahan atau bagian-bagian bangunan yang ringan umumnya bersifat siap pasang sehingga bisa menghemat biaya tukang.
Bobot konstruksi yang lebih ringan. Ini tentu secara berantai akan mengakibatkan antara lain, berkurangnya beban pondasi sehingga bisa dibuat lebih murah.
TERGANTUNG WILAYAH GEMPA
Menurut peta yang dilampirkan di majalah National Geographic edisi April 1995, seluruh permukaan bumi, laut, dan daratan, dibagi menjadi 16 lempengan tektonik utama. Indonesia bagian barat dari Pulau Sumatra sampai Pulau Sulawesi berada di lempengan Eurasia. Selebihnya, kepulauan Maluku dan Papua ikut lempengan Australia. Yang menjadi masalah adalah negeri kita berada di pinggiran kedua lempengan tersebut. Bagian barat Pulau Sumatra, bagian selatan Pulau Jawa, bagian barat Kepulauan Maluku dan bagian utara Pulau Papua bahkan benar-benar merupakan tepian kedua lempengan besar tersebut yang langsung bersentuhan dengan lempengan-lempengan besar lainnya, seperti lempengan Philipina dan lempengan Pasifik. Bisa dibayangkan penyebaran potensi gempa di negeri kita ini. Namun kita juga tidak perlu terlalu bersikap berlebihan, karena itu adalah gambaran yang sangat umum. Untuk gambaran yang lebih cermat telah dibuat peta gempa wilayah Indonesia Pada peta resmi tersebut wilayah gempa di Indonesia juga dibagi-bagi atas beberapa tingkat risiko gempa. Dari peta tersebut kita bisa merancang konstruksi tahan gempa dengan lebih proporsional.

Saptono Istiawan IAI 26 April 2005


Dimuat di KOMPAS 29 April 2005

Gambar diatas menunjukan bagian dalam konstruksi pesawat penumpang twinjet "Caravelle" buatan Sud Aviation Perancis, yang menunjukan rancangan konstruksi yang ringan namun cukup kuat untuk mengudara.

Sabtu, 22 November 2008

MATMÂTA RUMAH TINGGAL MASA LALU DAN MASA STAR WARS


Penerbangan dari Roma, Italia di Eropah ke Tunis ibukota Republik Tunisia di Afrika Utara hanya memakan waktu 1 jam 20 menit, namun serasa terbang melintasi perbatasan dua budaya yang jauh berbeda. Padahal Italia dan Tunisia secara geografis sama-sama berada di tepian Laut Tengah bahkan pernah diperintah oleh seorang kaisar yang sama. Namun sejarah telah memisahkan mereka pada dua kutub kebudayaan yang seolah-olah bertentangan. Italia mengadopsi budaya barat sementara Tunisia mewakili dunia timur.
Namun bagaimanapun Tunisia merupakan negeri Maghribi ( Negara-negara Afrika Utara) yang paling dekat dengan kehidupan budaya barat. Kebanyakan penduduknya selain berbahasa Arab juga pandai berbicara Prancis. Hal ini berakibat baik buat pariwisata Tunisia. Tunisia dengan penduduk hampir 10 juta orang mendapat kunjungan sekitar 3 juta wisatawan (terutama dari Eropah) setiap tahunnya. Karena, selain dekat secara fisik, Tunisia juga menawarkan banyak keindahan alam yang amat beragam. Dari pantai Mediteranian sepanjang 1200 km yang selalu bercuaca cemerlang hampir sepanjang tahun, sampai wisata budaya dan arkeologi (Tunisia punya sejarah peradaban sejak 3000 tahun yang lalu, dulu merupakan wilayah kekaisaran Romawi dan Carthago yang banyak menyisakan relik-relik sejarah seperti Colloseum di El Jem yang merupakan Colloseum terbesar ketiga setelah Colloseum di Roma dan Verona).
Namun barangkali pilihan wisata di sana yang tidak semua negara di dunia bisa menawarkan, adalah wisata gurun Sahara.
Gurun Sahara walaupun merupakan daerah yang amat sulit untuk didiami ternyata punya daya tarik yang luar biasa terutama bagi yang berjiwa petualang. Dan bagi yang datang dari Eropah tak ada tempat yang lebih mudah untuk mencapai Sahara. Tentu saja bukan wilayah Sahara yang berada di tengah-tengahnya. Bagian pinggirannya sudah cukup menawarkan imajinasi kebuasan suatu gurun namun masih tetap cukup aman untuk dikunjungi oleh wisatawan.
Salah satu titik wisata disana yang punya hal yang unik adalah sebuah kelompok pemukiman bawah tanah di pinggiran gurun Sahara yang bernama New Matmâta. Di Matmâta ini, yang berada 450 km perjalanan darat ke selatan dari Tunis ibukota Tunisia melalui kota pantai Gabes, kita bisa melihat bangunan hunian yang punya bangunan ber-arsitektur unik. Karena sebenarnya tak ada bangunan sama sekali yang didirikan di atas tanah di sana. Ruang-ruang huniannya justru dibangun di bawah tanah dengan menggali lubang untuk ruang hidup.
Idenya adalah sebagai berikut. Di gurun Sahara yang punya cuaca panas kering, apabila berada di bawah tanah, kita akan mendapatkan keuntungan yaitu suhu ruangan yang relatif lebih stabil. Suhu akan dingin disiang hari, sementara suhu di permukaan tanah panas dan sebaliknya akan terasa hangat di malam hari sementara udara di luar amat dingin. Itulah sebabnya perumahan sejenis ini banyak bertebaran di seluruh Afrika utara di tepi gurun Sahara.
Menurut catatan sejarahnya, di sekitar tempat ini, suku bangsa Berber telah menggali rumah bawah tanah semacam ini sejak seribu tahun yang lalu. Kini kurang lebih 100 rumah tinggal yang masih ada dalam bentuk “kawah-kawah” sedalam kurang lebih 10 meter dan dengan diameter kurang lebih antara 15 sampai 20 meter.
Dari lubang kawah-kawah inilah ruang-ruang untuk rumah tinggal digali (satu hunian satu kawah.) Kemudian pintu masuk dan jendela menghadap kawah ini. Jadi kawah-kawah buatan tersebut selain sebagai pintu masuk, berfungsi juga sebagai patio atau halaman dalam. Kemudian bagian bawah dari kawah tersebut dicat putih tampaknya agar bisa menambah pantulan sinar matahari yang menerobos ke ruang dalam melalui jendela dan pintunya. Beberapa kawah saling berhubungan dengan koridor-koridor bawah tanah. Namun sebagian lainnya merupakan hunian terpisah yang berdiri sendiri.
Pemukiman ini sangat menarik dari segi arsitektur dan lingkungan karena secara konsepsional bisa langsung mengatasi masalah-masalah iklim yang tidak begitu bersahabat.
Selain itu, dari luar, kompleks pemukiman ini mempunyai penampilan yang sangat unik. Karena, di tengah gurun gersang tiba-tiba tampak lubang-lubang bagaikan kawah berjendela memberi kesan seolah berada di suatu tempat di luar bumi. Dan memang karena itu tempat ini pernah digunakan oleh sutradara George Lucas untuk dijadikan salah satu lokasi pengambilan gambar filmnya yang amat terkenal Star Wars episode pertama. Tidak heran kemudian , walaupun berada di tempat yang gersang di tepi gurun terluas didunia, tempat ini banyak menarik wisatawan. Bahkan salah satu huniannya dirubah menjadi sebuah hotel, Hotel Sidi Driss (diambil dari nama sebuah kota di planet gurun Tatooine dalam kisah film Star Wars). Meskipun fasilitasnya tidak selengkap selayaknya sebuah hotel di tempat yang lebih “normal”. Namun Sidi Driss adalah sebuah hotel yang cukup nyaman. Apalagi bagi orang-orang yang ingin mencoba suasana yang baru.
Saptono Istiawan IAI, 18 Juli 2006
Pernah di muat di majalah PROJEKSI
foto-foto courtesy Pamela Green, Guy Lopez.

Selasa, 28 Oktober 2008

DO WE REALLY KNOW WHAT ARCHITECTURE IS?


ARSITEK DAN ARSITEKTUR


Apakah benar Arsitek menghasilkan karya arsitektur?Apakah tidak bisa dipikirkan hal yang sebaliknya?Barangkali postulasi bahwa sebuah (karya) arsitektur melahirkan seorang arsitek akan mempermudah pemikiran segalanya.Contohnya: Kita tak usah lagi menghawatirkan ke mana arahnya sistem/kurikulum pendidikan arsitektur kita karena dengan postulasi ini jelas arsitektur tidak tergantung dari sistem pendidikannya. Lebih lagi kita bisa meninggalkan pemikiran birokratik bahwa satu-satunya jalan untuk menjadi arsitek hanyalah melalui perguruan tinggi. Walaupun itu memang yang terjadi sekarang.



Kita sejujurnya telah terjebak dengan istilah arsitek dan arsitektur. Kata arsitektur, berasal dari bahasa mana pun berakar, seolah bermulal dari kata dasar arsitek dengan imbuhan "tur". Sehingga kesannya seolah-olah karya-karya arsitektur hanya keluar dari tangan para arsitek. Apapun jadinya.


Tetapi apakah memang begitu?Mengapa kita tidak membiarkan seseorang, katakan telah melewati pendidikan dan latihan di lembaga pendidikan arsitektur, menghasilkan suatu karya bangunan. Lalu kita tidak memberi julukan dia sebagai seorang arsitek sampai karyanya itu patut dinilai sebagai suatu karya arsitektur. Jadi karyanya itulah yang memberinya dia julukan sebagai arsitek. Bukan sebaliknya, karyanya dinilai sebagai karya arsitektur semata- mata karena muncul dari tangan seorang (konon) arsitek.


Seorang pelukis tidak mendapat julukan pelukis sampai salah satu saja karyanya patut disebut sebagai lukisan yang bermutu. Demikian pematung, pengarang lagu, dst. dst. terserah bagaimana mereka mendapatkan keahlian dan kamampuannya untuk menghasilkan karyanya.



Sebaliknya barangkali membahas bagaimana cara memberikan penilaian bahwa suatu bangunan patut disebut sebagai karya arsitektur mungkin lebih diperlukan buat masyarakat budaya kita. Misalnya apakah sebuah botol parfum raksasa setinggi 40 lantai, bisa kita kategorikan sebagai karya arsitektur?



Tentu tidak mudah bahkan sekedar untuk menetapkan parameter-parameternya saja. Diperlukan banyak konvensi untuk itu Tetapi pasti bisa dilakukan bersama. Dan saya kira ke sanalah energi wacana kita seharusnya difokuskan. Barangkali kita bisa suatu saat membangun sebuah parameter bahwa semakin banyak bisa melayani masyarakat bawah dengan baik dan elegan suatu bangunan, maka semakin tinggi nilai arsitekturalnya. Sama sekali tidak bermaksud mengecilkan peran lembaga-lembaga yang mendidik dan melatih calon arsitek. Mereka amat penting, pada akhirnya, dalam proses budaya untuk manghasilkan suatu karya arsitektur.


Mereka sampai saat ini merupakan satu-satunya pintu untuk membuat seorang bisa menghasilkan karya arsitektur. Bahkan telah tertulis dalam UU. Lebih lagi mereka bukan cuma lembaga pendidikan. Sebagai bagian dari suatu universitas atau suatu institut teknogi atau institut seni, mereka tentu juga meneliti, dan membangun teori-teori, kritik-kritik di bidang arsitektur mau pun cabang-cabang pengetahuan pendukung lainnya. Semua ini pasti pada gilirannya menyumbang banyak bagi lahirnya suatu karya arsitektur.


Tetapi postulasi bahwa seorang arsitek menghasilkan sebuah (karya) arsitektur, dengan sendirinya, seperti yang saya kira tengah berlangsung, telah melahirkan suatu sistem yang akhirnya akan bersifat birokratik dalam budaya kita yang mengharuskan exist-nya suatu lembaga (resmi) yang menghasilkan arsitek yang kemudian pada gilirannya menghasilkan suatu karya arsitektur. Dari mana lagi datangnya para arsitek itu? Tapi dari mana pula sebenarnya datangnya otoritas untuk melahirkan seorang arsitek?


Kalau kita menoleh kebelakang, bagaimana dengan karya-karya arsitektur diciptakan di masa lalu? Piramid, kuil besar di Parthenon, Kuil Solomon, Hagia Sophia , benteng Alahambra, kompleks hunian Machu Pichu, candi Borobudur, candi Prambanan? Apakah seorang arsitek dalam pandangan kita lebih penting dari karya arsitektur itu sendiri. Apakah kita punya pengetahuan mengenai latar belakang mereka? Siapa sebenarnya mereka ? Bagaimana kehidupannya? Bagaimana mereka bekerja? Metode dan pendekatan perancangannya? Bagaimana mereka mendapatkan "order"-nya. Kenapa kaisar anu menunjuk dia bukan lainnya dia? Dan yang terpenting dalam topik kita ini, bagaimana mereka mendapatkan keahlian dan kemampuannya?


Saya yakin sedikit sekali dicatat dalam sejarah tentang para arsitek yang menghasilkan karya arsitektur penting. Bahkan timbul pertanyaan, apakah masyarakat luas memang berkepentingan untuk mengetahuinya?Saat inipun, sedikit sekali anggota masyarakat yang mengetahui nama-nama para arsitek dari karya-karya arsitektur masa kini. Jadi apakah kiprahnya para arsitek yang menghasilkan (katakanlah) suatu karya arsitektur dipengaruhi oleh bagaimana ia dididik dan dilatih?


Sekali lagi saya ingin mengatakan bahwa tentu ada pengaruhnya. Namun kalau ada yang mengatakan pengaruh tersebut menentukan kiprahnya, tentu harus diperdebatkan. Mungkin bagian esensial dalam pengetahuan arsitekturnya didapat dari pendidikannya, tetapi sebagian besar pengetahuan, keahlian, dan kemampuannya tentu datang dari dunia nyata yang dia hadapi. Dan dari potensi dirinya sendiri tentunya.Perbandinganya barangkali seperti sebuah peluru meriam dengan sebuah rudal.


Berapa jauh dan tinggi si peluru meriam meluncur, sangat tergantung dari berapa banyaknya mesiu dan panjangnya laras meriam yang menembakannya. Sementara seberapa tinggi dan seberapa jauh sebuah rudal akan melesat tergantung dari berapa banyak bahan bakar yang dia bawa. Sama sekali tidak tergantung landasan peluncurnya.Jadi ke mana pun arahnya (sistem) pendidikan arsitektur kita, rasanya tidak banyak berpengaruh dengan kebutuhan nyata dunia arsitektur kita.


Atau dengan kata lain kita tidak bisa begitu saja menyalahkan sistem pendidikan arsitektur kita sebagai penyebab ketidak-"matchingan" (dengan) kebutuhan nyata bangsa kita. Jangan lupa bahwa karya arsitektur mana pun tidak dihasilkan oleh hanya sepasang tangan. Ya tangan si arsitek itu yang saya maksud. Banyak kepala dan tangan lainnya dibutuhkan untuk akhirnya menghasilkan suatu karya arsitektur. Sekali lagi kita tersesatkan oleh istilah.


Arah sistem pendidikan cuma berpengaruh bagi sistem pendidikan itu sendiri pada akhirnya.

Saptono IstiawanJakarta 31 Oktober 2004
pernah di posting di iai-architetct@yahoogroups.com dan ui-arch@yahoogroups.com di oktober 2004
pernah di muat di suatu majalah Arsitektur di Jakarta

Minggu, 12 Oktober 2008

GREEN WAYS BUKAN HANYA SEBUAH FASILITAS TETAPI JUGA SEBUAH AKTUALISASI DARI SUATU WAY OF THINKING


Setelah Taman Kota dan trotoir yang lebar, apa yang diinginkan lagi oleh penduduk kota yang cinta lingkungan? Jaringan jalan hijau (green ways) barangkali.
Sebuah kota biasanya punya beberapa taman besar dan kecil yang bertebaran di seantero wilayah kota. Dan umumnya pula taman taman tersebut merupakan taman-taman yang berdiri sendiri dan saling terpisah. Hanya bisa dicapai melalui jalan-jalan yang sama sekali tidak bebas polusi. Sekarang ada pertanyaan yang menggoda para pecinta lingkungan hijau kota. Bagaimana kalau taman taman tersebut dihubungkan dengan green ways (jaringan jalan hijau), semacam koridor yang rimbun yang khusus hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki dan penunggang sepeda. Sehingga sebuah kota akan memiliki sebuah jaringan kalur hijau menerus yang menghubungkan taman-taman tersebut yang terbebas dari polusi asap kendaraan bermotor.
Apa keuntungannya? Menurut Noel Grove dalam artikelnya di Majalah National Geographic edisi Juni 1990 “Greenways Paths to the Future” , greenways berguna untuk:
Meningkatkan rekreasi lingkungan dengan mengundang penduduk kota untuk berada diluar rumah.
1. Membantu satwa liar untuk berpindah-pindah tempat.(untuk daerah pedalaman)
2. Melindungi daerah-daerah dengan pemandangan permai (scenic region).
Kata Greenways sendiri menurut Charles E Little penulis buku mengenai Greenways adalah gabungan dari kata parkway (jalan taman ) dan greenbelt (jalur hijau).
Sebagai contoh adalah taman- taman besar di kota London. penduduknya bisa berjalan dengan nyaman dari taman satu ke taman lainnya dalam jarak yang hampir melintasi kotabesar tersebut.Misalnya seseorang bisa melintasi tanpa putus taman taman besar mulai dari timur St James park lalu ke Barat ke Green park lalu ke Buckingham Palace Garden lalu melintas ke Hyde Park lalu ke Kensington Garden yang total jarak lintasannya adalah lebih dari 4 kilometer.
Tetapi jalan hijau ini tidak perlu membatasi diri pada jaringan di dalam kota. Seperti tercantum diatas, jaringan jalan hijau ini melibatkan satwa liar yang tentunya melibatkan taman-taman nasional.
Di Amerika serikat sendiri menurut majalah National Geographic, Presiden Ronald reagan waktu itu (1985) telah membentuk suatu komisi yang disebut The President's Commission on American Outdoors ( PCAO) yang pada perjalanan tugasnya merekomendasikan suatu sistim koridor rekreasi dimana masyarakat bisa memasuki dan menggunakan dengan senyaman -nyamannya dengan membangun jaringan jalan hijau yang menghubungi taman-taman nasional dan juga kota- kota besar –kecil di seluruh wilayah AS. dan cita-cita luhur tersebut meskipun berukuran raksasa sepertinya tidak lama lagi akan tercapai karena hampir masyarakat setiap kota-kota dan negara-negara bagian di seluruh AS membangun secara swadaya. Ini dibantu lagi dengan pemanfaatan jaringan rel kereta api yang sudah tidak dipakai lagi (total ada 150000 mil) dan juga kesediaan dari asosiasi pemilik jaringan pipa gas dan pipa minyak amerika untuk membiarkan daerah right of way dari jaringan mereka untuk digunakan untuk Jalan hijau. Saat itu pada tahun 1990 tercatat ada 900 proyek Jalan hijau di seluruh Amerika Serikat yang mungkin sebagian besar sekarang sudah selesai dibangun.
Bagaimana dengan Jakarta dan Indonesia? Apakah mungkin dibuat jalan hijau yang menghubungkan kompleks olah raga Senayan umpamanya dengan lapangan Monas misalnya kemudian ke lapangan Banteng?
Guru saya DR. Bianpoen selalu mengingatkan mahasiswanya ketika membuat semacam latihan untuk merancang kota di sebuah sekolah Arsitektur, untuk selalu menyediakan jalur hijau menerus dalam setiap rancangan kota atau penataan suatu kota. Barangkali Jalan Hijau ini bisa menjadi solusi bagi semakin berkurangnya dan semakin mahalnya lahan yang tersedia untuk di jadikan taman kota. Target hijau 14 % bagi seluruh wilayah DKI semakin hari semakin sulit dicapai, kalau tidak malah menurun. Lahan untuk pembangunan jalan hijau
lebih mudah didapat karena selain melibatkan lahan lahan yang sempit namun panjang juga bisa memanfaatkan daerah aliran sungai- sungai dan kanal yang banyak mengalir menembus Jakarta. Juga
bisa menggunakan jalur bekas rel KA yang sudah tak terpakai atau jalur pipa gas. Selain itu jalan hijau ini bisa mengimbangi kekurangan fasilitas umum pada kompleks hunian di DKI karena jalan hijau yang merupakan jaringan jalur hijau yang merasuk kemana-mana memberi akses mudah bagi penduduk lingkungan tersebut. Lebih jauh lagi jalan hijau DKI ini juga bisa di konek (connect)dengan jaringan jalan hijau milik propinsi disekitarnya sehingga pada akhirnya bisa diharapkan terbangun jaringan jalan hijau di seluruh pulau Jawa dan si seluruh Nusantara.
satu- satunya hambatan bagi pengembangan jaringan jalan hijau ini mungkin adalah biaya. Sejauh ini biaya-biaya yang dikeluarkan untuk apapun yang berhubungan dengan lingkungan masih dilihat sebagai pengeluaran bukan investasi. Padahal kecenderungan perusahaan-perusahaan raksasa di seluruh dunia sekarang ini melihat investasi-investasi di bidang lingkungan sekarang sebagai kesempatan untuk meraih untung. Namun lebih jauh lagi harus didingat bahwa infrastruktur ini berupa jaringan luas. Artinya beban biaya pembangunan dan pemeliharaannya bisa dibagi rata secara luas.
Saptono istiawan SK IAI 7 Agustus 2006
Pernah dipublikasikan di harian KOMPAS 24 Agustus 2006

Selasa, 30 September 2008

KOTA KOTA KEPUNDAN DI PULAU JAWA

Selagi iseng mempelajari peta pulau Jawa(penerbit Nelle, skala 1:650.000) , saya menemukan hal yang menarik mengenai gunung- gunung besar di di pulau Jawa yaitu bahwa pada keempat titik quadrant mereka (Utara, Selatan Barat, dan Timur)selalu berdiri kota–kota penting P.Jawa. Atau dengan kata lain kota-kota tersebut selalu dibangun di keempat titik tersebut.

JAWA BARAT
Kita mulai saja langsung dari Gunung Pangrango-Gede (3019m-2667m) di Jawa Barat di titik kaki Selatan berdiri kota Sukabumi di Barat kota kecil Cicurug, Timur Cianjur di Utara mungkin Jakarta tetapi sepertinya terlalu jauh dan orientasi aslinya lebih ke laut Jawa.
Kompleks G. Tangkuban Parahu(2076m),Selatan Kota Bandung, Barat Padalarang, Utara Subang, Timur Sumedang.
G. Ciremai (3078m) Selatan kota kecil Telagakulon, Barat Majalengka, Utara Arjawinangun dan Palimanan, Timur Kuningan. Kota Cirebon ada di Timur lautnya sedangkan Jatiwangi ada di Barat Laut.
Kompleks G. Galunggung(2168m) Selatan tidak ada, Barat Garut, Utara tidak ada, Timur Tasikmalaya.

JAWA TENGAH
Di Jawa Tengah G. Slamet (3432 m) Selatan Purwokerto , Barat Bumiayu ,Utara ada kota kecil Moga . Di Timur kaki gunung masih memanjang hingga dataran tinggi Dieng dan berahir di kota Wonosobo tapi di Tenggara ada kota Purbolinggo.
G. Sumbing (3371m) selatan Purworejo, Barat Wonosobo Utara Temanggung, Timur Magelang. G Merapi- Merbabu ( 2911m-3143m) selatan Yogya, Barat Magelang, Utara Salatiga, Timur Surakarta. Bisa ditambahkan di Barat Daya ada Candi Borobudur, di Tenggara Candi Prambanan . G Muria(1602m), Selatan Kota Kudus, Barat Jepara, Utara kota kecil Blingoh mungkin kota kecamatan, tetapi keutara lagi ada kota pantai Metawar (calon lokasi PLTN kita yang pertama?). Di Timur Wedarjekso tetapi sedikit ke Tenggara ada kota Pati.

Di Perbatasan Jawa Tengah- Timur G. Lawu –Kukusan (3265m-2298m) Selatan Pacitan , Barat Surakarta, Utara Sragen, Timur Madiun. Jadi Surakarta tepat berada antara gunung Merapi dan gunung Lawu. Dua gunung yang cukup besar dan cukup aktif.
Gunung Merapi sendiri merupakan kembar siamnya Gunung Merbabu (3142m) dan tepat diantara kedua gunung ini ada kota perkebunan : Cepogo
JAWA TIMUR
Di Jawa Timur kompleks gunung Liman- Wilis- Limas- Dorowati (tertinggi 2563m) Selatan Trenggalek ,Barat Ponorogo, Utara Nganjuk , Timur Kediri .
G. Kelud - Kawi - Butak (1731m,2551m,2568m) Selatan Blitar, Barat Kediri, Utara Jombang,Timur Malang.
Kompeks G Semeru-Kepolo-Bromo (3676m, 3035m, 2329m) di Selatannya tak ada kota, mungkin karena sampai Samudra Hindia tidak ada dataran yang cukup, Barat Malang, Utara Pasuruan Timur Lumajang. G. Argopuro (3088m) Selatan Jember, Barat Lumajang, Utara Besuki, Timur Bondowoso. G Raung (3352 m) Selatan kota kecil Genteng, Barat Bondowoso, Utara Situbondo, Timur Banyuwangi.
KOTA KOTA ASLI YANG DIBANGUN OLEH BANGSA INDONESIA
Semuanya ,kecuali mungkin Bandung dan Malang ,adalah kota yang dibangun oleh bangsa kita sendiri bukan oleh Hindia Belanda. Dan tentunya mereka dibangun dengan dukungan pertanian yang subur disekitarnya dan sebagian juga menjadi pusat kerajaan-kerajaan dulu. Tetapi kenapa selalu tepat atau hampir tepat di Selatan, Barat, Utara dan Timur dari Vulcano-vulcano didekatnya sungguh saya ingin tahu. Mungkin semata alasan geografis namun hampir pasti bukan hanya kebetulan dan tidak pula dibangun pada zaman yang bersamaan . Dan juga bukannya tidak ada kota penting lain yang dibangun tidak di salah satu sisi gunung api. Yang jelas gunung api tentu menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kesadaran bathin penduduk P. Jawa dulu.

ILMU YANG MEMPELAJARI ASAL USUL KOTA
Barangkali ada yang pernah belajar tentang asal –usul kota atau yang pernah belajar Javanology atau ada rekan yang tinggal di salah satu kota diatas bisa memberi penjelasan. Saya juga belum pasti apakah ini hanya terjadi di pulau Jawa. Sepertinya pulau Honshu di Jepang punya kemiripan geograpis dengan pulau Jawa . Sayangnya saya belum punya petanya yang memadai. Juga New Zealand dan Cuba.
Vulcanoe Cities by Saptono Istiawan 15Februari 2003-30 Oktober 2004/9 September 2007
Pernah di posting sebelumnya di : http://wastumaya.com/

Kamis, 25 September 2008

ARSITEKTUR MATI, ARSITEKTUR HIDUP





Dalam suatu kuliah Merencana oleh pak Han Awal dulu, beliau menunjukan gambar bangunan perpustakaan utama di Universidad Nacional Autonome de Mexico (UNAM)

rancangan J O’Gorman dan J.M de Velasco. Bentuk dasarnya sangat sederhana yakni sebuah kotak yang ditempatkan diatas satu baturan. Akan tetapi yang membuatnya tampak istimewa adalah seluruh facadenya yang dipenuhi ( tak ada bagian yang tersisa ) dengan lukisan Maya dengan detail detail lukisan sampai sekcil kecilnya.
Komentar pak Han waktu itu yang berkesan buat saya hingga sekarang adalah : “Lihatlah fasadenya, seperti ada aliran darah disana!”
Sebuah bangunan (seolah olah) ada aliran darahnya?
Bukankah bangunan yang saya lihat selama ini selalu mati? Dan memang sepantasnya begitu?
Dan memang selalu dirancang begitu?
Kata kata pak Han seolah tertancap tak terjawab dalam benak keingin tahuan saya sampai lebih dari tiga puluh tahun sampai saya membaca sebuah posting milis dari Christoper Alexander. Saya kemudian sadar bahwa mungkin saja sebuah bangunan bisa seolah olah mempunyai aliran darah dalam dirinya. Asal pemikiran kita bisa melepaskan diri dari paradigma paradigma umum yang dianut oleh dunia arsitektur diseluruh dunia duaratus tahun belakangan ini.


Kata- kata penting yang saya tangkap dari postingnya Christoper Alexander(CA) dibawah ini adalah "(the) living structure" , kemudian " the living quality" kemudian dibenak saya dengan sendirinya muncul kata "the living architecture" karena begitulah (tuntutan)context nya (menurut saya lho!).Kata-kata ini saja sudah cukup membuka mata dari apa yang selama ini saya pikirkan tentang apa itu arsitektur. Kata kata "living architecture" menyadarkan saya bahwa apa yang selama ini kita anggap main streamnya arsitektur sebenarnya adalah "the dead architecture" belaka betapapun cangih desain-desainnya ataupun konsep-kosep teorinya. (C. A. menyebutnya disini sebagai : "the empty imageries").Selama ini memang selalu ada yang saya rasakan kurang dari "mainstreamnya " paham-paham arsitektur tapi saya tak bisa mengatakan apa itu, sebelum saya membaca artikel ini. Apa pentingnya sebuah arsitektur jika dia " living" atau dia "dead"? Toh benda mati tetap akan menjadi benda mati? ...............Tapi jangan lupa, benda mati ditangan seorang seniman yang handal akan menjadi seolah-olah benda hidup. Hanya-seolah-olah, tetapi itu adalah salah satu indikasi kemampuan dan pencapaian seorang seniman sejati.Coba kita Tengok cabang-cabang seni lain ( Arsitektur kan sebuah seni juga kan?). Seorang dalang wayang golek atau wayang kulit yang piawai dalam menggelar seni "story tellingnya " akan membuat penontonnya kagum dengan gerakan-gerakan wayangnya - seolah benda-benda mati itu hidup ditangannya. Dada nya Cepot misalnya, dibuat naik turun seperti makhluk yang bernafas oleh dalang kondang Asep Sunarya.Gitaris blues Eric Clapton bisa membuat bunyi gitarnya terdengar bagai sebuah rintihan. Kalau kita memperhatikan detail- detail dari lukisan-lukisan plafon " the Last Judgement" dari Michaelangelo di Sistine chapel di Vatikan, seolah olah ada pembuluh darah yang mengalir dibalik kulit dari semua tokoh yang ada dalam lukisan itu. Bahkan Gapeto begitu piawainya dia membuat sebuah boneka sehingga boneka kayu itu benar- benar menjadi seorang Pinokio yang hidup, berlebih-lebihan memang karena cuma sebuah dongeng, tapi sumber idenya adalah sama : ditangan seorang seniman benda mati yang menjadi medium ekspresi seninya bisa menjadi bagaikan sebuah benda hidup. Arsitektur sebagai sebuah art/seni seharusnya tak beda dengan art-art lainnya dan Arsitektur tradisional menurut CA, "shows us the existence of a fund of living Architecture and asks us and inspires us to emulate that fund in our own way" .Mungkin (sudah ) tak mudah (lagi) untuk membalikan paradigma bahwa arsitektur klasikisme dan turunan-turunannya adalah mainstream sedangkan arsitektur tradisional cuma tributaries-nya saja atau malah dibiarkan berdiri di peripheri, karena hal ini sudah mengakar dan melembaga selama lebih kurang 80 tahun (kata CA), (barangkali pula hal inilah yang menyebabkan dunia arsitektur kita begitu sulit untuk mendefinisikan/merumuskan "Arsitektur Indonesia").Tapi saya yakin generasi-generasi dari dunia arsitektur berikutnya pasti akan menyadari "kebenaran baru" ini dan segera mengaplikasikannya. Kita cuma bisa menuntut diri kita supaya jangan ketinggalan kereta. Bahkan dalam dalam catatan sejarah apa yang disebut sebagai gaya arsitektur masa art-nouveau yang muncul sudah semenjak awal abad 20, sepertinya sebuah gerakan yang coba meng" hidup"kan seni arsitektur dengan meng adopsi garis- garis lengkung dan meng emulasi benda-benda hidup didetail-detailnya, menggantikan garis- garis geometrik primitif yang melanda gaya arsitektur yang dominan dimasa itu.Tapi sayangnya gerakan menghidupkan ini kemudian di "mati"kan lagi dengan gerakan yang dikenal sebagi art-deco. Cukup aneh juga kejadiannya.



oleh Saptono Istiawan Jakarta 11 Maret 2006

pernah diposting di milis uiarch-alumni@yahoogroups.com dan iai-architects@yahoogroups.com di tahun 2006




foto perpustakaan: dari The Dictionary of Architecture, oleh Pevsner, Leming dan Honour - Overlook Press Woodstock New York 1976




postingnya Christoper Alexander:


"OUR NEW ARCHITECTURE AND THE MANY WORLD CULTURES AN OPEN LETTER TO CLASSICIST AND TRADITIONAL ARCHITECTS" CHRISTOPHER ALEXANDER

This essay first appeared on the TradArch list-server at the
University of Miami, October 2002.
(copied from: http://www.katarxis3.com/Alexander_%20Many_Cultures.htm)
My Dear Colleagues,
In the last few weeks I have been reading many contributions to the TradArch listserv. I have not said anything, up until now, because I have simply been enjoying the community, the joy expressed in ancient things, and ancient wisdom, the renewal of the right to be careful with buildings and to take pains with details of buildings. Above all, I have enjoyed seeing the way many of you talk to each other, respect each other, and try, genuinely, to talk.
However, I have been truly puzzled by one thing — enough for me to want to speak about it, or at least mention it.

So here are my thoughts.
Some of you take seriously the idea of Classicism (not merely Classicism in the sense of something "classic" - a different use of the word) in a sense that is anchored in the architecture of ancient Greece and Rome, the Florentine Renaissance, and the English and European styles from the 17th to the 19th century, that specifically used these details: Greek column orders, egg and dart, Palladian windows, and so on) as a model for our building activities in the 21st century.
This became clear in recent TradArch discussions about Classicism versus Gothic, whether Gothic could be admitted to "the canon," and the idea that Byzantine, anyway, could not.

TRADITIONAL ARCHITECTURE IN INDONESIA AND OTHER PLACES

The point of paying serious attention to traditional architecture is something very much larger, is it not? All traditional architecture - that is, almost all the architecture built in Indonesia, Japan, Russia, Africa, Turkey, Iran, India, China - this dazzling wealth of forms, representing building, and art, and design for several millennia, is our heritage; and it is important because, regardless of its particular style, nearly all these buildings exemplify, in one way or another deeper thing: the presence of living structure. It is this living quality which inspires us, and which we, rightfully, rnust consider-as our heritage and our great teacher. It is great, and it is a great teacher, because it shows us the existence of a fund of living architecture and asks us and inspires us to emulate that fund, in our own way, and to become part of it with our own buildings, in our own time.

THE EMPTY IMAGERY
The problem with the production of the last eighty years is that much of it has turned its back on this heritage, often deliberately, and has therefore been on a deliberate course to substitute empty imagery for living structure in a way that harms us all, and harms all humankind.
That it seems to me is our common point, what we hold in common.
If we hold too narrowly to the pure historical classicist forms, we run a very severe danger that this could be perceived as an elitist game, not relevant to seven eighths of the people on Earth, and possibly colonialist in its meaning if not its intent. Yes, we might say that the classical forms of building, from a tiny sliver of culture in space and time, were exported, for example to Peru and Colombia. That is just the same as the export of the Spanish language, or the English language, which had both good and bad effects. I know you do not mean to export the production of 18th century England and France as a new kind of elitism. But it can be perceived this way.
The same will be true if we try to export Doric columns to Nigeria, or Queen-Anne window shapes to Uttar Pradesh.

ARCHITECTURE AND ECONOMIC

Certainly, contemporary architecture represents economic colonialism at its worst; it exports monstrous towers and glass facades that erase local traditional culture the world over, whereas classicists fundamentally respect human values in both the scale of buildings ,and in the way they interact with people. It is also true that the third world or, at least its governments and the ruling power elite, love to replace their timeless architecture by the latest avant-garde absurdities. Sensitive classicism has offered an alternative to this madness.


TO CELEBRATE LIFE

The issue is, it seems to me, that we must renew our attention to forms that have life, and like nature, originate from life and joyfully celebrate life. This must be focused, above all, on the forms that we ourselves make from our contemporary technology. But it does have a great deal to do with what we view as proper models. We must eschew forms that fly in the face of the search for life (90% of the current modern canon); and we must try to learn how the shapes of living structure can come to our work, and to our hands, of their own accord, and through our more careful efforts as architects. It is that deeper structure we must understand, celebrate, and search for in our projects so that ultimately we may learn how to construct a living world again, as people did centuries ago without even trying because it was so obvious to them.

THE DOMINANCE OF CLASSICISM

But that is a very different activity from copying the shapes of classicism, in a literal sense. I understand that classicism has a well-defined set of rules, which can be learnt and applied, whereas the corpus of other traditional architectures has either been lost, or totally neglected in our times. In an emergency situation, in the times of total architectural and social nihilism that we live in, it is possibly better to build classically than to follow the glossy architectural magazines and what is taught in architectural schools nowadays. It is now time to expand our scope, however.

MY PARENTS WERE ARCHEOLOGISTS

I deeply love and understand the beauties of the classical tradition. I learnt Latin and Greek when I was eight years old, and was nurtured in the classic European tradition in England and Austria. My parents were both classical archaeologists, and I grew up with respect for all these things. But I learnt anthropology, too, and have lived all over the world, and I have joy in the paintings of aborigines in Australia, and in the starry friezes of Islamic buildings, and in the beasts of Persepolis, and the long houses of Borneo, and the mud houses of the Cameroon..

We, as the architects of the new millennium, need to broaden our scope. Otherwise the fire that exists among the people who write to this TradArch list-server might be extinguished, because other people (at least 5 billion of the six billion on Earth) in the larger parts of the world will pay no attention, and might resent what is implied. .

THE LIVING STRUCTURE
That would be a tragic misunderstanding. Of course, what classicists believe in is not meant to be slighting .( diremehkan). It is meant to celebrate the reality of living structure as it has been observed, and loved, by many of us. It is that living structure, and the deep nature of what it is, and how it must be produced, that is what ought to guide us and lead us on.
It would perhaps be helpful for us to spend a little more time discussing the rules of deep structure which create life in buildings in general.
This is positive in intent, and will hugely broaden our base.
tcv-:

Pernah di posting alumni@UIArch.Net oleh C. Idarti.

Senin, 15 September 2008

AKUSTIK, ELEMEN RUANG YANG BANYAK DI ABAIKAN





Alkisah di suatu ruang yang cukup besar dimana banyak orang bercengkerama untuk suatu acara tiba-tiba Anda merasakan sesuatu yang kurang melengkapi suasana yang hampir sempurna. Kehangatan pembicaraan sesama kawan dan sejawat yang dilatarbelakangi ruang yang ditata dengan apik dan cenderung mewah dan pencahayaan yang nyaman jadi agak terganggu.
Dan ketika pembicaraan mulai meningkat sedikit serius, Anda memerlukan peningkatan perhatian. Andapun mulai mengalami kesulitan menangkap kata-kata penting dari lawan bicara karena gangguan bunyi- bunyi dan gema-gema yang kurang mendukung pendengaran Anda. Atau kala Anda ingin menyimak lagu “ Think of Me “ dari Drama “ The Phantom of the Opera”yang dihidangkan oleh performers musik “live”, Anda sedikit menyesal, karena tidak dapat menikmati sepenuhnya keindahan lagu tersebut karena gaung yang merusak nada-nada kesayangan Anda. Saat itulah Anda tahu bahwa ruangan itu dirancang tanpa memperhatikan soal akustik.
ILMU YANG SUDAH DIRASAKAN KEBUTUHANNYA RIBUAN TAHUN YANG LALU
Akustik ( dari bahasa Yunani akouein = mendengar) adalah ilmu terapan yang dimaksudkan untuk memanjakan indra pendengaran Anda di suatu ruang tertutup terutama yang relatif besar.Arsitek Romawi dari abad ke 1 Marcus Pollio sudah mulai melakukan pengamatan cermat tentang gema dan interferensi (getaran-getaran suara asli dan getaran pantulan yang saling menghilangkan) dari suatu ruangan. Namun baru pada tahun 1856 akustik ini mulai dibangun sebagai suatu ilmu oleh Joseph Henry dan akhirnya dikembangkan penuh oleh Wallace Sabine di tahun 1900. Keduanya adalah fisikawan Amerika. Namun sayangnya kecenderungan sampai saat ini dinegara kita nampaknya menunjukan bahwa kecuali pada ruangan ruangan khusus seperti untuk ruang konsert, studio rekaman atau panggung teater, rancangan akustik umumnya diabaikan. Padahal di ruang manapun , bagi orang-orang yang indra pendengarannya sensitif, berada diruang yang berakustik buruk merupakan siksaan. Tetapi akustik yang buruk juga menghambat orang-orang dalam ruangan untuk berkomunikasi.Lebih jauh lagi manusia juga harus mengerahkan energi untuk mengatasi kebisingan akustikal yang memepercepat keletihan dalam bekerja sehingga mengurangi produktivitasnya.
Saat unsur-unsur lain dirancang secara teliti sampai begitu detail,kebanyakan ruang-ruang dalam di bangunan-bangunan megah di Jakarta amat kurang memperhatikan soal akustik ini. Mal-mal, terminal bandara, ball room, ruang kerja/kantor, bahkan auditorium sepertinya kurang memperhatikan soal akustik.
Penyebab pengabaian akustik ini masih belum diketahui. Tetapi soal penataan akustik sebagaimana desain interior atau tata cahaya atau tata udara sebenarnya bukanlah hal yang terlalu asing. Ahli akustik handal banyak dijumpai di dunia engineering di Indonesia. Banyak pihak yang mengira akustik hanya layak diterapkan di ruang ruang/gedung khusus yang berkaitan dengan musik. Padahal akustik dari semua jenis ruang tertutup (enclosed area) patut mendapatkan perhatian serius, meskipun tentu saja pada tingkat penanganan yang berbeda-beda dan design objective nya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan sifat masing-masing ruangan.
BAHKAN RUMAH TINGGAL
Rumah tinggal Andapun sebenarnya pantas mendapatkan treatment akustik ,karena pada dasarnya keheningan dan kenyamanan akustik merupakan bagian penting dari privasi di rumah Anda, seperti yang dikatakan oleh Harold Burris Meyer dan Lewis S. Goodfriend dalam buku yang mereka tulis bersama : “Acoustics for the Architects” (Reinhold Publishing Corporation, New York 1957).
Namun apa sebenarnya yang dilakukan atas akustik suatu ruang? Pada dasarnya sangat sederhana. Akustik dimaksudkan untuk mempertahankan bunyi atau suara dalam suatu ruang agar tetap mudah didengar atau dalam beberapa situasi seperti menyangkut performa musik, menjadi lebih baik. Hal ini dilakukan karena didalam ruang tertutup suara cenderung mengalami reverberasi (turut getar/ ulang getar), dan persepsi manusia atas suatu bunyi maupun suara amat tergantung dari waktu reverberasi (reverberation time) suatu suara. Bila suatu bunyi mulai terdengar disuatu ruang tertutup, bunyi itu akan bertahan beberapa detik ( dan inilah yang disebut reverberation time/waktu getar), karena getaran bunyi tersebut berpantulan dari dinding ke dinding, dari langit- langit ke lantai sebelum akhirnya bunyi itu lenyap dari pendengaran karena energi getaran diserap habis oleh bidang bidang-bidang ruang atau lolos keluar. Waktu getar yang terlalu lama, katakanlah empat detik, akan mengganggu persepsi atas suatu rangkaian bunyi atau kata karena bunyi sebelumnya akan menindih bunyi berikutnya secara berangkai. Namun sebaliknya waktu getar yang terlalu kecil juga akan menyulitkan persepsi pendengaran karena beberapa bagian dari suatu rangkaian suara belum sempat tertangkap secara sempurna oleh telinga kita padahal rangkaian bunyi berikutnya sudah mulai terdengar.

DIBUTUHKAN KETELITIAN DAN RASA DENGAR
Namun dalam prakteknya akustik menjadi sangat rumit karena sifat- sifat perubahan bunyi (benda) dan suara (manusia) melibatkan banyak parameter parameter ilmu fisika yang memerlukan pengolahan dan kalkulasi matematik canggih , selain dibutuhkan juga data-data dari sifat-sifat akustik bahan bangunan. Diluar parameter-parameter obyektif tadi dibutuhkan juga judgement subyektif yang bertujuan mendapatkan rasa nyaman dan estetika. Kesemuanya akhirnya membutuhkan juga beberapa test-test laboratorium maupun test evaluasi di tempat yang mebutuhkan alat-alat dan cara pengukuran yang lumayan canggih.
Untungnya kerumitan tersebut umumnya terpusat pada masalah pantulan suara pada (penutup) bidang-bidang besar yang berada di suatu ruang. Seorang arsitek atau interior desainer sebenarnya cukup memperhatikan dua golongan bahan yang digunakan dalam penataan ruang dalam, yakni yang bersifat memantulkan dan yang menyerap suara. Dengan pengaturan yang baik antara bidang pantul dan bidang serap,keseimbangan yang pas dari kombinasi penggunaan kedua golongan bahan bangunan ini pada dasarnya sudah lebih dari cukup bagi awal penataan akustik.
Dan sebenanya pula, akustik suatu ruangan sebagaimana dengan tata cahaya, tata warna dan tata furniture merupakan faktor estetika yang mendukung suatu tata ruang secara keseluruhan yang pada akhirnya akan menambah nilai properti dari bangunan anda.

Saptono Istiawan IAI 23 Nopember 2007


pernah dimuat di harisn KOMPAS.

Minggu, 07 September 2008

METROPOLITAIN de PARIS


"If you are lucky enough to have lived in Paris as a
young man, then wherever you go for the rest of your
life it stays with you, for Paris is a moveable feast."
— Ernest Hemingway (1899-1961), U.S. author
.

Jaringan kereta bawah tanah tidak hanya memberi solusi transportasi dalam kota besar tetapi juga men-generate suatu gaya hidup yang didasarkan pergerakan yang memberi rasa dinamis bagi warganya. Seperti yang bisa dirasakan bila kita sempat memanfaatkan Metro Paris.
Bagi warga Jakarta yang mula-mula mencibirkan proyek Busway kemudian ternyata menikmati benar kenyaman menaikinya karena terbebas dari kemacetan kota, tentu akan terkagum-kagum bila berkesempatan memanfaatkan jaringan transportasi massal cepat bawah tanah kota Paris. Bayangkan kalau jaringan Busway TransJakarta saat ini baru punya dua jalur (waktu itu) . Metro , demikian jaringan subway di Paris disebut, punya 19 jalur yang saling terhubung. Di Jakarta kita hanya bisa menggunakan Busway dari tempat-tempat tertentu saja di Jakarta. Di Paris anda tak akan pernah lebih jauh dari 500 m dari stasiun metro terdekat dimanapun anda berada. Tiga ratus delapan puluh stasiun metro bertebaran di seluruh kota Paris. Tentu saja sangat tidak adil untuk membandingkan Busway yang baru dua tahun dengan Metro yang sudah lebih dari seratus tahun. Tetapi baik Busway maupun Metro sama-sama menyadarkan kita bahwa transportasi massal cepat (Rapid Mass Transit/RMT) adalah sesuatu hal yang sudah seharusnya ada di suatu kota besar. Busway bisa dianggap sebagi langkah awal yang jitu buat melepaskan diri dari ketiadaan RMT di kota sebesar Jakarta setelah puluhan tahun selalu gagal untuk mulai membangun jaringan RMT yang mapan.
Lebih jauh lagi, Metro bukan sekedar memenuhi kebutuhan transportasi penduduknya di Paris, tetapi telah menjadi kebanggan mereka. Karena, begitu besar, efektif dan tertata dengan sangat baiknya. Sehingga Metro, seolah-olah bagaikan detak jantung yang mengatur irama kehidupan seluruh warga kota Paris. Bangun pagi, sarapan, jam kerja, jam istirahat, semua seolah-olah disesuaikan dengan jam keberangkatan dan kedatangan kereta yang hendak mereka tumpangi. Dimanapun mereka berada, selalu melihat jam untuk memperhitungkan waktu yang dibutuhkan mereka untuk mencapai stasiun terdekat sekiranya mereka harus berada di suatu tempat lain.
Seluruh 19 jalur Metro sepertinya sudah diatur sedemikian rupa sehingga bila diperlukan pergantian kereta di satu tempat, perbedaan waktu antara datangnya kereta pertama dan kereta kedua, seseorang tak perlu menunggu lebih dari satu menit untuk bisa menaiki kereta transitnya. Saya bisa merasakan hal tersebut ketika saya harus berlari-lari kecil di stasiun bawah tanah supaya jangan ketinggalan kereta sambungan karena ternyata waktu tiba dan waktu pergi kereta dihitung berdasarkan kecepatan langkah normal orang Paris yang jauh lebih cepat dari langkah kita umumnya yang dari Jakarta. Kalau kita diundang kesuatu tempat, kita tidak hanya diberi alamatnya tetapi dibubuhi juga lokasi stasiun Metro terdekat dan jalur yang harus anda tumpangi. Lokasi tujuan wisata juga selalu dinyatakan dengan stasiun Metro dan nomor jalur kereta yang harus anda tumpangi. Misalnya Eifel Tower diberi penjelasan : “Metro no. 6, Bir Hakeim or Trocadero. RER C, Champ de Mars”.
Artinya dari manapun anda berada di kota Paris, untuk mencapai Menara Eifel, anda harus mengganti kereta anda dengan kereta jalur Metro 6 atau Jalur RER C pada kesempatan pertama, kecuali kalau anda memang sudah menggunakan salah satu jalur tersebut dari titik keberangkatan anda. (Jaringan subway Paris sebenarnya terdiri dari dua jaringan yang saling terhubung yaitu jaringan dalam kota Paris yang dikelola oleh Metro yang 14 jalurnya dinamai dengan angka : jalur 1 sampai 14, dan jaringan dalam kota ke pinggiran (suburban) Paris yang dikelola oleh RER (Réseaux Express Régionale/Jaringan Ekspres Regional) dan ke 5 jalurnya ditandai dengan huruf A,B,C,D,E. Demikian juga bila kita hendak ke wilayah Latin Quarter selalu diinformasikan dengan: Metro no. 4 dan RER C Saint Michel.
Selain cukup cepat dan nyaman diatas keretanya, berada di stasiun bawah tanahnya sendiri punya keindahan tersendiri. Ke 380 stasiun punya ciri tersendiri dan tak ada yang mirip seolah ratusan kota mini tersendiri dengan watak masing-masing. Suasana bergerak sangat terasa. Lengkap dengan getaran energi gerakan seluruh kota yang seolah-olah terasa di semua stasiun (secara fisik mereka memang berhubungan melalui terowongan, rel dan koridor-koridor yang dilalui para penumpang. Derum kereta yang datang dan pergi terasa seperti denyut jantung raksasa yang menyebar di nadi-nadinya. Meskipun sudah diredam dengan ban angin layaknya ban mobil biasa(khusus bila bergerak di stasiun), tak urung kereta bawah tanah selalu memancarkan getaran-getaran yang seolah merangsang penumpangnya untuk bersegera (depechez vous! kata mereka).
Namun ada satu hal yang hilang sesampai di tempat tujuan kita setelah turun dari Metro yaitu pemandangan Kota Paris sepanjang perjalanan. Karena selama perjalanan kita berada di bawah tanah tanpa panorama apapun.
Hal lain lagi ialah bila terjadi mogok dari persatuan awak dan petugas Metro. Terasa sekali hidup kita seperti ditentukan oleh tirani yang luar biasa kuat.
Yah! semua selalu ada kekurangannya.




Saptono Istiawan SK IAI, 14 Juli 2006.




Pernah dimuat di Koran Tempo beberapa tahun yang lalu

Rabu, 03 September 2008

DIANTARA RUANG, MEMORI DAN ARSITEKTUR



Penny Lane is in my ears and in my eyes
There beneath the blue suburban skies.....”
Penny Lane bersemayam dalam ingatan pendengaranku dan kenangan penglihatanku.
Nun disana, dalam naungan birunya langit tepian kota
(Lagu Penny Lane gubahan John Lennon dan Sir Paul McCartney)
Foto Penny Lane di Liverpool oleh: Mauro M.

Penny Lane adalah nama sebuah jalan di kota Liverpool di Britania Raya, yang di sepanjang kedua sisinya berdiri toko-toko mirip jalan Sabang di Jakarta Pusat atau jalan Braga di Bandung, jalan KH Agus Salim di Semarang atau jalan Somba Opu di Makassar. Amat mudah bagi yang sering mengunjungi tempat semacam itu untuk mendapatkan kenangan yang amat kaya dengan warna-warna kehidupan. Persis seperti yang digambarkan dalam lagu Penny Lane diatas. Ada tukang cukur dengan pelanggan setianya, bankir pasar, bahkan gambaran kehidupan sehari-hari awak barisan pemadam kebakaran setempat.
Paul McCartney dari the Beatles menyanyikan lagu tentang salah satu tempat kenangan masa kecil di kota kelahirannya dengan indah, namun tentunya diwarnai dengan nada sendu yang menyatakan kerinduan tapi juga sedikit kebanggaan.
Lagu yang menjadi hit dunia ditahun 1967 ini hanya salah satu contoh dari banyak lagu-lagu yang memuja-muja suatu tempat dalam kenangan perjalanan hidup seseorang. Betapa suatu tempat tertentu lebih dari sekedar pantas untuk dikenang sepanjang hidup dari setiap generasi yang pernah menjadi pengunjung tetapnya.
Dimanakah Anda menghabiskan waktu luang Anda dimasa kecil? Dimasa Remaja? Suatu tempat dimana Anda merasa handarbeni (belonging)? Suatu tempat yang sedikit demi sedikit, namun secara permanen mengukir ruang dalam memori jangka panjang Anda. Kemudian ruang memori itu dalam benak Anda seolah- olah menjadi semacam kanvas lukisan dimana semua kenangan indah dalam hidup Anda dilukiskan hampir seperti nyata.
Tentu saja tempat tersebut juga menjadi tempat kenangan bagi ratusan ribu atau jutaan warga lainnya. Kenangan yang akan diteruskan dari generasi ke generasi. Mungkin saja kenangan muncul tanpa acuan waktu, tetapi tidaklah mungkin suatu kenangan muncul dalam tempat kosong sama sekali.
Yang disebut tempat dalam kenangan pasti merupakan suatu ruang. Dan yang dinamakan ruang dalam peradaban manusia pasti menyangkut Arsitektur, baik yang menyangkut ruang dalam maupun ruang luar.
Bangunan-bangunan tertentu di satu kota yang pantas disebut sebagai karya Arsitektur punya fungsi mistis juga, yakni sebagai bingkai dimana semua kenangan ditampilkan kembali. Semakin tua semakin berharga, karena dengan demikian semakin banyaklah kenangan yang bisa di “replay” dalam benak warganya.
Masih ingatkah Anda dengan gedung Harmonie yang berdiri ditempat sekarang kantor Sekretariat Negara? Tentu banyak diantara Anda yang masih ingat namun dengan segala penyesalan dan rasa kehilangan. Yang tinggal hanya nama tempatnya. Untunglah masih tersisa banyak bangunan-bangunan bernilai sejarah yang berserakan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Makassar dan lain-lainya di Indonesia.
Namun jangan lengah! Bangunan bersejarah umumnya menempati posisi strategis di tengah kota. Dan ke-strategisan itu punya potensi ekonomi yang mampu mengundang perhitungan-perhitungan ekonomi kelas berat dari para investor properti dan penguasa kota. Sayang sekali perhitungan-perhitungan mereka biasanya tidak memasukan nilai-nilai yang tak teraba (intangible values) dan juga biaya-biaya yang tersembunyi (hidden costs) kalau perhitungannya membenarkan perobohan bangunan bersejarah demi lokasinya. Lihat saja misalnya bangunan hotel Des Indes di jalan Gajah Mada, sebuah hotel yang tentunya pernah menyimpan banyak cerita kehidupan kelas tertentu di Batavia abad 19 dan awal abad 20, yang sekarang disulap menjadi pusat pertokoan Duta Merlin.
Belum terhitung Gedung tempat dibacakannya teks Proklamasi, walaupun sekarang digantikan oleh bangunan patriotik
(Gedung Pola dan Monumen Proklamasi) namun berapa banyak catatan dan kenangan sejarah berdirinya Republik Indonesia ini ikut terbabat bersamaan dengan robohnya gedung rumah tinggal di jalan Pegangsaan Timur nomor 56 itu?
Di kota Semarang sekarang ini ada sebuah bangunan yang bersejarah dan dengan demikian sarat dengan kenangan yang terancam digusur. Ratusan Arsitek, Arkeolog, Budayawan Indonesia yang menganggap bangunan Pasar Johar tersebut sarat nilai, berusaha mencegah niat Walikota Semarang Sutawi Sukarip untuk merobohkan bangunan yang sebenarnya dilindungi oleh oleh Undang-undang Cagar Budaya.
Beberapa pengelola kota rupanya masih punya kecenderungan kontroversial untuk menganggap bangunan bersejarah sebagai bagian masa lalu saja. Tidak perlu hadir dimasa kini apalagi dimasa depan. Catatan-catatannya biarlah berada dalam text-text dan dokumen dokumen saja tak perlu lagi bingkai-bingkai nyata untuk mengenangnya.
Profesor DR. Ir. Eko Budihardjo M.Sc, seorang Arsitek Perencana Kota dan budayawan dari Universitas Diponegoro bahkan dengan keras mengatakan kehilangan bangunan bersejarah bagi suatu kota ibarat kehilangan ingatan bagi seseorang. Dia mengacu kepada banyaknya bangunan bernilai sejarah yang terancam di kota Semarang.
Sudah saatnya semua pihak yang terkait dengan perkembangan suatu kota, baik itu walikota, investor properti, perencana lingkungan dan Arsitek untuk mempertimbangkan nilai-nilai yang tak teraba namun tak tergantikan dalam mengembangkan suatu kota. Masa lalu dari suatu tempat sama pentingnya dengan masa kini dan masa depan. Ibarat akar yang tak tampak, punya nilai sama dengan batang, daun, dan buah bagi suatu pohon.
Kalau semua sudah sadar, amanlah tempat bersemayam kenangan bersama bagi semua warga kota dan mereka boleh tetap merasa sehat jiwa dan raganya.

Saptono Istiawan IAI 29 Juni 2007

Dimuat di harian KOMPAS, 26 Oktober 2007

Minggu, 31 Agustus 2008

COME TASTE THE CITY!

Kawasan Monas

Melihat diri sendiri melalui cermin
Rupanya masih belum cukup.
Kita harus melihat diri sendiri
Melalui kacamata orang lain
Agar bisa mendapat gambaran
Yang menyeluruh dan jelas .
Asal kita tahan kritik saja



oleh : Andre Vitchek- worldpress.org contributing editorJuly 26, 2008
penterjemah: Inggriani (?)

Pada saat ini, gedung pencakar langit, jalanan macet dipadati oleh ratusan ribu kendaraan, dan mal-mal raksasa telah menjadi pusat kebudayaan Jakarta ,yang notabene merupakan kota terbesar ke-4 di dunia. Terjepit diantara gedung tinggi, terhampar perkampungan dimana bermukim sebagian besar penduduk Jakarta yang tidak memiliki akses sanitasi dasar, air bersih atau pengelolaan limbah. Disaat hampir semua kota-kota utama lain di Asia Tenggara menginvestasikan dana besar-besaran untuk transportasi publik, taman kota, taman bermain,trotoar besar, dan lembaga kebudayaan seperti museum, gedung konser, dan pusat pameran, Jakarta tumbuh secara BRUTAL dengan berpihak hanya pada PEMILIK MODAL dan TIDAK PEDULI akan nasib mayoritas penduduknya yang MISKIN. Kebanyakan penduduk Jakarta belum pernah pergi ke luar negeri, sehingga mereka tidak dapat membandingkan kota Jakarta dengan Kuala Lumpur atau Singapura, Hanoi atau Bangkok .

APAKAH INI STIGMA BERLEBIHAN?
Liputan dan statistik pembanding juga jarang ditampilkan oleh media massa setempat. Meskipun bagi para wisatawan asing Jakarta merupakan NERAKA DUNIA, media massa setempat menggambarkan Jakarta sebagai kota "modern", "kosmopolitan" , dan"metropolis" .Para pendatang/wisatawan seringkali terheran-heran dengan kondisi Jakarta yang tidak memiliki taman rekreasi publik. Bangkok, yang tidak dikenal sebagai kota yang ramah publik, masih memiliki beberapa taman yang menawan. Bahkan, Port Moresby, ibukota Papua Nugini, yang miskin, terkenal akan taman bermain yang besar, pantai dan jalan setapak di pinggir laut yang indah. Di Jakarta kita perlu biaya untuk segala sesuatu. Banyak lahan hijau diubah menjadi lapangan golf demi kepentingan orang kaya. Kawasan Monas seluas kurang lebih 1 km persegi bisa jadi merupakan satu-satunya kawasan publik dikota berpenduduk lebih dari 10 juta ini.

DEKAT TAPI "JAUH" DARI LAUT
Meskipun menyandang predikat kota maritim, Jakarta telah terpisah dari laut dengan Ancol menjadi satu-satunyalokasi rekreasi yang sebenarnya hanya berupa pantai kotor.Bahkan kalau mau jalan-jalan ke Ancol, satu keluarga dengan 4 orang anggota keluarga harus mengeluarkan uang Rp 40.000 untuk tiket masuk, satu hal yangtak masuk akal di belahan lain dunia. Beberapa taman publik kecil kondisinya menyedihkan dan tidak aman.Sama sekali tidak ditemui tempat pejalan kaki di seluruh penjuru kota(tempat pejalan kaki yang dimaksud adalah sesuai dengan standar"internasional" ).

EVERY CITY IS BUILT TO BE WALKED ABOUT.
Nyaris seluruh kota-kota di dunia (kecuali beberapa kotadi AS, seperti Houston dan L.A.) ramah terhadap pejalan kaki. Mobil seringkali tidak diperkenankan berkeliaran di pusat kota . Trotoar yang lebar merupakan sarana transportasi publik jarak pendek yang paling efisien, sehat, dan ramah lingkungan di daerah yang padat penduduk.

TAK ADA BANGKU GRATIS APALAGI AIR MINUM GRATIS DI TAMAN TAMAN
Di Jakarta, nyaris tidak dijumpai bangku untuk duduk dan rileks, tidak ada keran air minum gratis atau toilet umum. Ini memang remeh, tapi sangatpenting, merupakan suatu detil yang menjadi simbol kehidupan perkotaan dibagian lain dunia.


KOTA PERADABAN ATAU CUKUP SEBAGAI KOTA BERADAB ?
Sebagian besar kota-kota dunia, ingin dikunjungi dan dikenang akan kebudayaannya.
Singapura sedang berupaya mengubah citra kotabelanjanyamenjadi jantung kesenian Asia Tenggara. Esplanade Theatre yang monumental telah mengubah wajah kota Singapura, dimana ia menawarkan konser musik klasik, balet, dan opera internasional kelas satu, disamping pertunjukan artis kontemporer kawasan. Banyak pertunjukan yang disubsidi dan seringkali gratis atau murah, bila dibandingkan dengan pendapatan warga kota yang relatif tinggi.
Kuala Lumpur menghabiskan $100 juta untuk membangun balai konser philharmonic yang terletak persis dibawah Petronas Tower , salah satu gedung tertinggi di dunia. Balai konser prestisius dan impresif ini mempertunjukkan grup orkestra lokal dan internasional. Kuala Lumpur juga sedang menginvestasikan beberapa juta dolar untuk memugar museum dangaleri,dari Museum Nasional hingga Galeri Seni Nasional.
Hanoi bangga akan budaya dan seninya, yang dipromosikan guna menarik jutaan turis untuk mengunjungi galeri-galeri lukisan yang tak terhitungjumlahnya,dimana lukisan tersebut merupakan salah satu yang terbaik di Asia Tenggara.
Gedung Operanya yang dipugar secara reguler mempertunjukkan pagelaranmusik Asia dan Barat.
Candi-candi dan istana kolosal di Bangkok eksis berdampingan dengan teater dan festival film internasional, klub jazz yang tak terhitung jumlahnya,dan juga pilihan kuliner otentik dari segala penjuru dunia.
Kalau bicara musik dan kehidupan malam, tak ada kota di Asia Tenggara yang semeriah Manila.


KE JAKARTA LAGI
Nah, sekarang balik ke Jakarta . Siapapun yang bernah berkunjung ke"perpustakaan umum" atau gedung Arsip Nasional pasti tahu bedanya. Tak heran, dalam pendidikan Indonesia, budaya dan seni tidak dianggap"menguntungkan" (kecuali musik pop), sehingga menjadi tidak relevan.Indonesia merupakan negara dengan ANGGARAN PENDIDIKAN TERENDAH nomor 3 didunia - Masya Alloh! (pent.) - (menurut The Economist, hanya 1,2% dariPDB) setelah Guyana Khatulistiwa dan Ekuador (di kedua negara tersebutkeadaan sekarang berkembang cepat berkat pemerintahan baru yang progresif)


MUSEUM
Museum di Jakarta berada dalam kondisi memprihatinkan, sama sekali tidak menawarkan eksibisi internasional. Museum tersebut terlihat seperti berasal dari zaman baheula dan tak heran kalau Belanda yang membangun kesemuanya.Tidak hanya koleksinya yang tak terawat, tapi juga ketiadaan unsur-unsur modern seperti kafe, toko cinderamata, toko buku atau perpustakaan publik.Kelihatannya manajemen museum tidak punya visi atau kreativitas. Bahkan,meskipun mereka punya visi atau kreativitas, pasti akan terkendala dengan ketiadaan dana.

SOAL TATA KOTA
Sepertinya Jakarta tidak punya perencana kota, hanya ada pengembang swasta yang tidak punya respek atau kepedulian akan mayoritas penduduk yang miskin(mayoritas besar, tak peduli apa yang dikatakan oleh data statistik yang seringkali DIMANIPULIR pemerintah).

BELUM PERNAH DENGAR SOAL IZIN LOKASI?
Kota Jakarta praktis menyerahkan dirinya ke sektor swasta, yang kini nyaris mengendalikan semua hal, mulai dari perumahan hingga ke area publik.
Sedangkan beberapa dekade yang lalu di Singapura, dan baru-baru ini di Kualalumpur, mereka berhasil menghilangkan total perkampungan kumuh dari wilayah kota, namun Jakarta tidak mampu atau tidak mau memberikan warganya perumahan bersubsidi dengan harga terjangkau yang dilengkapi dengan air ledeng, lis trik, sistem pembuangan limbah, taman bermain, trotoar dan sistem transportasi massal.


SISTIM TRANSPORTASI
Selain Singapura, Kualalumpur dengan berpenduduk hanya 2 juta jiwa memiliki satu jalur Metro (Putra Line), satu monorail, beberapa jalur LRT Star yang efisien, dan jaringan kereta api kecepatan tinggi yang menghubungkan kota dengan ibu kota baru Putrajaya. Sistem "Rapid" memiliki ratusan bus modern, bersih, dan ber-AC. Tarifnya disubsidi, tiket bus Rapid hanya sekitar 2 Ringgit (kuranglebih Rp 4600) untuk penggunaan tak terbatas sepanjang hari di jalur yang sama. Tiket abonemen bulanan dan harian yang sangat murah juga tersedia.

Bangkok menunjuk kontraktor Siemens dari Jerman untuk membangun 2 jalur panjang "Sky Train" dan satu jalur metro. Bangkok juga memanfaatkan sungai dan kanal sebagai transportasi publik dan objek wisata. Pemerintahan kota Bangkok juga mengklaim bahwa mereka sedang membangun jalur tambahan sepanjang 80 km untuk sistem tersebut guna meyakinkan penduduk untuk meninggalkan mobil mereka di rumah dan memanfaatkan transportasi umum.

Bus-bus kuno yang berpolusi sudah sepenuhnya dilarang beroperasi di Hanoi ,Singapura, Kuala lumpur, dan Bangkok. Jakarta ? Berkat korupsi dan pejabat pemerintahan yang tak kompeten, Jakarta tenggelam dalam kondisi yang berkebalikan dengan kota-kota tersebut.


KUALITAS HIDUP VERSUS BIAYA HIDUP
Mercer Human Resource Consulting, dalam laporannya tentang kualitas hidup,menempatkan Jakarta di posisi setara dengan kota-kota miskin di Afrika dan Asia Selatan, bahkan dibawah kota Nairobi dan Medellin Walaupun Jakarta menjadi salah satu ibukota terburuk di dunia, hidup disana tidaklah murah.
Menurut Survey Mercer Human Resource Consulting tahun 2006,Jakarta menduduki peringkat 48 kota termahal di dunia untuk ekspatriat, jauh diatas Berlin (peringkat 72), Melbourne (74) dan Washington DC(83).
Nah, kalau untuk ekspatriat saja mahal, apalagi buat penduduk lokal yang pendapatan perkapita DIBAWAH $1000??

WARGA PENDIAM
Anehnya, orang Jakarta diam seribu bahasa. Mereka pasrah akan kualitas udara yang jelek, terbiasa dengan pemandangan pengemis di perempatan jalan,dengan kampung kumuh di bawah jalan layang dan di pinggir sungai yang kotordan penuh limbah beracun, dengan kemacetan berjam-jam, dengan banjir dan tikus.Kalau saja ada sedikit harapan, kebenaran pasti akan terucap, dan semakin cepat semakin baik.

TRUTH HURTS BUT SURELY CURES
Hanya diagnosis kejam dan realistis yang bisa mengarah pada obat. Betapapun pahitnya kebenaran, tetap saja lebih baik ketimbang dusta dan penipuan. Jakarta telah tertinggal jauh dibelakang ibukota lain negara tetangga dalam hal estetika, pemukiman, kebudayaan, transportasi dan kualitas dan higiene makanan.
Sekarang Jakarta telah kehilangan kebanggaan dan mesti belajar dari Kualalumpur, Singapura, Brisbane, dan bahkan dalam beberapa hal dari tetangganya yang lebih miskin seperti PortMoresby, Manila, dan Hanoi.Data statistik harus transparan dan tersedia luas. Warga harus belajar bertanya dan bagaimana untuk memperoleh jawaban dan akuntabilitas. Hanya kalau mereka memahami seberapa dalamnya kota mereka telah terperosok,maka barulah ada harapan. "Kita harus berhati-hati" kata produser film Malaysia dalam perayaan tahun baru di Kuala Lumpur. " Malaysia punya banyak masalah.
Kalau kita tidak hati-hati, dalam 20-30 tahun Kualalumpur akan bernasib sama seperti Jakarta !


PRO BISNIS DAN PRO PUBLIK
"Dapatkah pernyataan ini dibalik? Mampukah Jakarta menemukan kekuatan dan solidaritas untuk mobilisasi sehingga dapat menyaingi Kuala Lumpur? Mampukah kecukupan mengatasi keserakahan? Dapatkah korupsi diberantas dan diganti dengan kreatifitas? Akankah ukuran vila pribadi mengecil, dan kawasan hijau, perumahan publik, taman bermain, perpustakaan, sekolah dan rumah sakit berkembang pesat? Orang luar seperti saya hanya dapat mengamati, bercerita, dan bertanya. Dan hanya masyarakat Jakarta yang punya jawaban dan solusinya.



000OOOO000


diambil dari posting Inggriani dalam milis :iai-architect@yahoogroups.com

Minggu, 10 Agustus 2008

JALUR LAMBAT HILANG



Akhirnya jalur lambat di jalan Thamrin Jakarta di satukan dengan jalur cepat seperti saya bayangkan sejak lama.

Pemisah jalur (median) dihilangkan, ada kerugian yakni banyak pohon besar di median ikut terbabat, tetapi jalan Thamrin jadi tambah lebar dan mungkin tambah lancar.

Tapi sayangnya kenapa hasil penghapusan median itu tidak secara fair di gabung dengan sidewalk yang sudah ada ( desain oleh Prof Danisworo). Jadi seharusnya sidewalk sepanjang jalan Thamrin bisa dapat tambahan k.l. 3meter menjadi selebar 10 meter ! Mungkin bisa lebih. Betapa nyamannya seandainya itu yang dilakukan. Dua atau tiga baris pohon besar bisa ditanam sepanjang jalan Thamrin. Jalan Sudirman mungkin menyusul. Apa yang terjadi di sidewalk tersebut. Kontak publik yang bagaimana? Mungkin kita akan surprise semua

Lebih mengecewakan lagi sidewalk di depan kantor pusat bank Indonesia sangat tidak proporsional kecilnya mungkin tidak sampai dua meter lebarnya berdampingan dengan pagar BI yang begitu tinggi dan megah (lihat kedua foto ). Apalagi kalau dilihat secara keseluruhan dengan kompleks BI yang sudah tinggi amat luas lagi. Lagi pula tak satupun pohon bisa ditanam disana.

Barangkali ada yang bisa menjelaskan

salam.

Saptono

Jumat, 27 Juni 2008

KENAIKAN HARGA BBM BERTAHAP

Hari ini 27 Juni 2008, koran Republika mengabarkan bahwa panitia anggaran DPR telah mengusulkan agar rasio harga BBM domestik dan Internasional dijaga konstan pada tingkat tertentu. Karena harga internasional BBM sekarang ini cendreung naik maka dapat diharapkan harga domestik akan terus mengikuti.
Siap siap saja bung. Ini memang sesuatu yang sudah direncanakan sejak 1998.

Senin, 16 Juni 2008

THE DISAPPEARING SIDEWALK

Suatu trotoir tiba tiba semakin mengecil dan dihalangi lagi oleh pohon palem baru .
( perempatan jalan metro pondok indah dan jalan niaga hijau raya)

Rabu, 04 Juni 2008

BENSIN PRABAYAR



Alkisah akhirnya pemerintah dengan beberapa pertimbangan tertentu menurunkan kembali harga BBM
antara lain bensin premium menjadi Rp4500,- . Artinya tetap dalam harga dengan subsidi.
Namun pemerintah untuk keadilan ekonomi sekaligus mengurangi beban subsidi kemudian mengeluarkan kebijakan sitim pra bayar bagi penerima bagian subsidi BBM terbesar yakni mobil pribadi.

Saptono Istiawan SK 4 Juni 2008
Cerita selanjutnya telah dipindah ke : http://nutfah.blogspot.com/

Sabtu, 31 Mei 2008

HIRARKI RUANG

MENATA RUANG DENGAN MENGIKUTI PRINSIP HIRARKI RUANG
Kita bisa menata ruang-ruang dalam rumah kita sesuka hati kita . Sesuai dengan selera dan kebutuhan anda dan keluarga anda. Dari segi ukuran, jumlah ruang, warna , bentuk ruang. Apapun sepanjang sesuai dengan ketersediaan ruang, lahan, dan dana yang anda`miliki.
Namun dalam menyusun ruang-ruang tersebut kita tidak boleh melupakan bahwa hubungan antar ruang memerlukan suatu prinsip penataan yang disebut hirarki ruang. Hirarki ruang adalah suatu prinsip yang berdasarkan pendapat bahwa setiap ruang di dalam rumah tinggal mempunyai tingkatan hirarki (arti sebenarnya adalah: susunan tingkat kependetaan) . Hirarki disini adalah tingkatan dalam hal ke privasi-an. Semakin tinggi ruang dalam tingkatan ke privasian, semakin terbatas akses bagi orang lain untuk memasukinya.Ruang ruang disusun sedemikian rupa sehingga satu ruang hanya berhubungan dengan ruang lainnya yang tingkat hirarkinya setingkat lebih rendah atau lebih tinggi nilai keprivasi-annya.
Seperti kita ketahui manusia membutuhkan kebersamaan namun pada saat yang lain juga butuh saat saat menyendiri. Sejalan dengan itu kita juga membutuhkan ruang-ruang untuk berkumpul bersama di satu saat dan ruang-ruang lain untuk menyendiri di saat yang lain.
Secara budaya kemudian muncul apa yang disebut daerah umum (public) dan daerah pribadi ( private).
Pembagian umum dan pribadi ini tentu amat mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Yang perlu diperhatikan adalah hubungan antara kedua daerah tersebut. Harus terpisah dengan jelas namun tidak boleh terasing satu sama lain. Untuk itulah diperlukan suatu prinsip penataan hirarki ruang ini.
Umpamanya katakanlah di tingkat paling bawah dari tangga hirarki adalah jalan di depan rumah kita. Jalan adalah suatu bentuk ruang daerah publik. Artinya, siapapun boleh lalu lalang, berhenti untuk melakukan apapun sepanjang tidak menggangu ketentraman bersama.
Satu tingkat hirarki diatas jalan adalah halaman depan rumah kita. Ruang ini adalah milik pribadi tetapi siapapun bisa diterima disini sepanjang tidak menunjukkan gelagat-gelagat yang merugikan.
Tingkat selanjutnya adalah teras atau foyer yang merupakan daerah perbatasan antara daerah publik dan daerah pribadi. Siapapun bisa berada disini atas persetujuan tuan rumah.
Kemudian ruang tamu. Seseorang hanya bisa masuk atas undangan atau persilahan dari tuan rumah.
Selanjutnya di tingkat berikutnya ada ruang makan, kemudian ruang tidur, kamar mandi dan toilet di puncak hirarki. Tempat dimana seseorang bisa mengundurkan diri secara total.
Dengan demikian penataan ruang yang mengikuti hirarki ruang adalah penataan yang menyusun ruang-ruang dalam rumah kita sedemikian rupa sehingga hubungan dari setiap ruang mengikuti urut-urutan tingkat ke privasi-an masing-masing ruang.
Penataan seperti ini dimaksudkan untuk mendapatkan rasa keamanan, kenyamanan dan ketenteraman bagi penghuni rumah. Setiap kegiatan atau kehadiran penghuni yang satu tidak mengganggu yang lainnya tanpa munculnya rasa saling keterasingan.
Setiap ruang dengan tingkatan hirarki dibatasi oleh sesuatu yang secara umum oleh Serge Chermayeff dan Christoper Alexander dalam bukunya ”Community and Privacy” disebut sebagai “joints” (buku/ruas). Joints ini berfungsi sebagai aling-aling visual dan suara, disamping aling-aling fisik tentunya.Jadi bisa berupa sekedar tirai tipis atau dinding bata. Namun pembatas ini selain bersifat menghalangi juga harus punya kemampuan memberi akses diantara dua ruang tersebut untuk mobilitas`internal. Karena itu pembatas tersebut biasanya ada bukaannya baik yang berdaun pintu maupun tidak.
Tentu akan timbul pertanyaan, bagaimana kalau lahan dan bangunan begitu kecilnya sehingga amat sulit menyusun hirarki ruang yang pantas. Jawabannya adalah memang pada kenyataannya kita harus menerima bahwa semakin besar lahan dan bangunan rumah tinggal kita, semakin banyak anak tangga hirarki yang bisa kita susun. Sebaliknya semakin kecil rumah tinggal kita semakin sedikit tingkatan hirarkinya. Mungkin hanya dua tingkatan ruang: publik dan ruang privasi . Artinya dari daerah umum kita akan langsung memasuki daerah privasi, tanpa suatu daerah atau ruang perantara sedikitpun. Dalam hal ini ke privasi-an hanya dilindungi oleh “joints” yang disebut diatas. Peran joints menjadi sangat penting disini.
Hirarki ruang bersifat universal , berlaku dimana-mana. Di perkotaan maupun di desa, dimanapun manusia membentuk kelompok masyarakat. Cuma memang penerapannya berbeda berdasarkan lokasi geografis, iklim, dan budaya(mungkin semuanya itu saling mempengaruhi). Untuk negeri kita dengan iklim tropis, umumnya semua pintu keluar bersifat selalu terbuka (normally open). Hal ini tentu membuat perancangan antara daerah pribadi dan daerah umum menjadi agak lebih sulit. Dahulu rumah-rumah panggung memberikan pemecahan yang baik sekali bagi masalah perancangan ini dengan cara memberikan perbedaan tinggi lantai antara daerah umum (outdoor)dan daerah pribadi (indoor) . Seorang asing atau tamu harus menaiki tangga untuk mencapai daerah privasi. Sebaliknya pemilik rumah merasa nyaman terpisah namun tidak terisolir dengan ruang publik. Demikian juga bangunan pendopo di Jawa Tengah yang merupakan ruang peralihan antara daerah umum dan daerah pribadi. Didaerah beriklim 4 musim sebaliknya pintu pintu bersifat selalu tertutup (normally close) sehingga pemisahan wilayah umum dan pribadi lebih sederhana.
Satu keuntungan lagi dari penyusunan ruang secara hirarkis adalah kita hanya perlu memerlukan sedikit daun pintu didalam rumah kita (mungkin hanya pintu masuk,kamar tidur dan kamar mandi) karena ruang-ruang telah ditata sedemikian rupa sehingga satu ruang hanya berhubungan dengan ruang yang lain yang cuma lebih rendah atu tingkat keprivasi-annya.
Saptono Istiwan IAI Jakarta 22 September 2004
Pernah dipublikasikan di harian Kompas 24 September 2004

RUANG ANTARA



KEBUTUHAN AKAN RUANG – RUANG ANTARA
DALAM RUMAH KITA

Dalam kehidupan nyata, apabila dua pihak berniat melakukan interaksi akan lebih nyaman dan elegan apabila dilibatkan pihak ketiga sebagai penghubung yakni seorang perantara. Demikian pula ruang-ruang tertentu dalam rumah kita. Apabila dua ruang secara fungsi berhubungan erat , akan lebih baik apabila ditempatkan diantaranya suatu ruang antara.
Sebagai contoh : antara ruang makan dan dapur, ada ruang persiapan saji yang dikenal sebagai pantry. Antara ruang tidur dan kamar mandi, ada ruang wastafel atau ruang rias. Antara halaman depan dan pintu utama, terdapat teras sebagai ruang antara.
Keberadaan ruang antara ini sangat menambah kerapihan dan kenyamanan rumah kita. Meskipun fungsinya sebagian besar hanya untuk dilewati, namun sebenarnya Ruang antara itu mempunyai fungsi yang amat banyak dan beragam, antara lain:
1. Mengatur lalu lintas dalam rumah:
Seperti kita bisa lihat, selain terdapat ruang-ruang fungsional untuk kegiatan tertentu seperti ruang tidur dan ruang keluarga, didalam rumah juga diperlukan alur lalu lintas untuk bergerak dan keluar masuk dari ruang ke ruang.
Ruang antara akan memperjelas alur lalu lintas ini. Kalau tidak ada ruang antara ini, alur lalu lintas dalam rumah akan ditentukan oleh susunan dan posisi perabot-rumah seperti kursi meja dan rak-rak. Keberadaan ruang antara akan memperjelas lalulintas di antara ruang-ruang disekitarnya. Sehingga pada akhirnya pengaturan perabot rumah dan pengaturan lalu lintas masing-masing bisa berdiri sendiri, tidak saling bergantung dan tidak saling membatasi.
2. Melindungi privasi.
Ruang rias atau ruang wastafel yang memisahkan kamar mandi utama dan kamar tidur utama, bisa juga berfungsi sebagai jalan masuk ke kamar tidur itu. Dengan demikian penghuni kamar tersebut yang sedang berada di dalam tidak akan terganggu apabila seseorang masuk dan membuka pintu. Karena pintu terbuka tidak langsung ke kamar tidur melainkan ke ruang perantara. Demikian juga foyer yang dibahas diakhir tulisan ini.
3.Fungsi peredam
Pantry meredam kebisingan, hawa panas, asap, bau kurang sedap, dari dapur ke ruang makan. Ruang wastafel atau ruang rias meredam kelembaban, suara-suara tidak nyaman dari kamar mandi ke kamar tidur.
Pada kenyataannya ruang antara bisa juga menghubungkan lebih dari dua ruangan . Ruang ini akan lebih tepat kalau kita sebut sebagai ruang pembagi,dikenal dalam dunia arsitektur sebagai foyer atau ante room atau vestibule . Selain menghubungkan beberapa ruang, misalnya ruang keluarga dan ruang tamu, kamar mandi tamu dan ruang kerja, biasanya ruang pembagi juga sekaligus sebagai ruang penyambut (entrance), karena di ruang ini biasanya juga terdapat pintu depan yang berhubungan dengan ruang luar. Sebagai ruang penyambut, ruang ini bisa berfungsi sebagai ruang pembatas dan peralihan antara luar rumah dan dalam rumah. Juga sebagai aling-aling pembatas pandangan dari luar ke ruang keluarga. Pemilik rumah bisa juga memanfaatkan ruang ini sebagai ruang display bagi benda-benda yang patut ditunjukkan ke tamu untuk impressi.
Karena fungsi nyatanya kurang jelas dan karena juga harga lahan dan harga bangunan yang tinggi, ruang-ruang antara ini jarang dipikirkan untuk dibuat. Karena hanya dianggap sebagai pemborosan. Atau kalaupun ada, ruang-ruang ini kurang dirancang dengan seksama. Padahal, secara keseluruhan,apabila dibuat dengan baik, nilai yang didapat dari ruang-ruang ini lebih menguntungkan dari pada nilai anggaran yang harus disediakan untuk membuatnya. Untunglah saat ini, dengan mudahnya informasi didapat melalui media-media khusus yang mambahas rumah tinggal , kebutuhan untuk menata rumah tinggal yang lebih elegan juga meningkat. Fungsi Ruang-ruang antara juga mulai diperhatikan.
Saptono Istiawan 10 November 2003

Dimuat di harian Kompas 14 Nov 2003

Selasa, 27 Mei 2008

BAHAN BAKAR CAIR DI SET SESUAI HARGA PASAR DUNIA





Harian Warta Kota terbitan hari ini 27 Mei 2008 di halaman 5 memberitakan soal dibelakang layar kenaikan BBM,tepat sehari setelah kemarin saya memposting soal hubungan antara kenaikan BBM/BBC dengan pencabutan Travel Warning pemerintah Amerika Serikat.
Judul artikelnya:
PEMERINTAH INGIN IKUT HARGA DUNIA
Pengamat ekonomi kerakyatan Revrisond Baswir menilai bahwa tidak ada alasan tertentu untuk menaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Hal itu terjadi karena sejak awal sudah sepakat akan melepas harga minyak sesuai dengan pasar (dunia).
Penilaian itu dikatakan di sela sela diskusi: Keberadaan Pancasila dalam dinamika Politik Kekinian di Indonesia yang berlangsung di Gedung MPR/DPR di jalan Gatot Subroto Jakarta pada Senin 26 Mei 2008.
Kesepakatan itu ( harga BBM Indonesia= harga dunia) merupakan bagian dari LOI (Letter of Intent) antara Pemerintah RI dengan IMF yang ditanda tangani tahun 1998.
Sehubungan dengan LOI tadi pemerintah telah membuat draft Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi (UU MIGAS) yang baru pada tahun 1999. Hanya saja sempat mendapat tentangan dari Pertamina waktu itu. kata Revrisond.
Pada tahun 2000 (pemerintah) Amerika Serikat melalui USAID menyediakan pinjaman bagi pemerintah kita untuk memulai liberalisasi tersebut.
Bunyi UU MIGAS no 22 tahun 2001 pasal 28 ayat 2 adalah:
Harga bahan bakar minyak dan harga gas bumi diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang sehat dan wajar.
Egitu UU ini diberlakukan pemerintah langsung memberi izin kepada perusahaan asing untuk membuka SPBU ( Stasiun Pengisian BBM untuk umum). Hingga kini sudah ada 40 perusahaan yang memegang izin serupa itu.
Target Pemerintah sebenarnya menargetkan memenuhi kesepakatan tersebut diatas (meliberalisasikan harga BBM) pada tahun 2005, tetapi ditengah jalan ( sebelum 2005) UU migas tersebut dibawa ke Mahkamah Konstitusi oleh Serikat Pekerja Pertamina ( mereka seharusnya mendapat bintang jasa).
Oleh Mahkamah Konstitusi pasal 28 itu dibatalkan.


Foto Revrisond courtesy Warta Kota
Foto Suharto-Camdessus : Istimewa

Senin, 26 Mei 2008

TRAVEL WARNING

Pencabutan travel warning dari pemerintah AS dilakukan tepat sehari setelah BBM naik.
Apa pihak Deplu Amerika tidak mengantisipasi kegalauan masyarakat kita setelah naiknya BBM (BBC) itu?
Ada yang janggal disini. Apa ada hubungan antara keduanya?
Tapi mungkin juga tak ada apa apa.
Mudah mudahan memang tidak ada hubungannya.
Just a coincidence, kata bahasa diplomasinya.
Bagaimanapun jua itu sesuatu yang bagus buat citra Indonesia di dunia.
thanks Condy.

Sabtu, 24 Mei 2008

BANGUNLAH PLATFORM-PLATFORM

Ingin Indonesia aman sentosa makmur dan maju terus?
silahkan baca pemikiran saya ini


Oleh saptono
Negara dibentuk untuk menciptakan platform-platform kehidupan.Platform yang saya maksud adalah landasan raksasa berupa fasilitas-fasilitasyang menawarkan kemudahan bagi warganya.

28 Juni 2005

Lengkapnya telah dipindah ke : http://nutfah.blogspot.com/

Senin, 19 Mei 2008

QUALITY EATING

posting ini telah dipindah ke : http://nutfah.blogspot.com/

Selasa, 13 Mei 2008

MANDI HUJAN




Apakah anda masih ingat ketika anda bergembira berlari-larian atau bermain bola di saat hujan? Ingatan masa kecil itu tentu menggoda untuk kita lakukan lagi sekarang. Namun apa daya norma-norma bagi orang dewasa tak mengizinkan untuk mengulanginya saat ini.Tapi bagaimana kalau kita punya kamar mandi tak beratap alias beratap langit!

Bayangkan di saat panas terik tentu tak terkira nikmatnya kesejukan air mandi kita. Sebaliknya di kala malam cerah kamar mandi bermandikan cahaya bulan purnama dan berjuta bintang.

Ternyata, mandi pun butuh imajinasi yang sedikit liar. Saya sendiri belum pernah merancang kamar mandi semacam ini. Namun beberapa hotel resort di Bali sudah mencobanya. Beberapa arsitek juga pernah merancangnya. Sejarawan kita, Ong Ho kam, juga memilih kamar mandi sejenis ini sekitar duapuluh tahun yang lalu. Dengan dibantu oleh arsitek Hindro Soemardjan IAI, dia mewujudkan keinginannya untuk mandi di bawah awan.

DUA KONSEP.
Nah, Anda berhasrat memiliki kamar mandi seperti itu? Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mewujudkannya.
Kamar mandi macam itu mempunyai dua konsep:
1.Hanya atas terbuka tapi dinding tetap menutupi kita di kala mandi.
2.Atas terbuka, demikian juga pandangan ke segala arah.

Yang pertama cocok untuk rumah–rumah di daerah padat sehingga pandangan horizontal sangat terbatas. Maksudnya, kamar mandinya sebenarnya kamar mandi biasa saja namun kita buka atapnya dan diberi sekedar pengaman seperti teralis besi. Kita tidak punya view ke sekeliling kita karena tidak memungkinkan. Tetapi kita bisa menatap langit atau bulan purnama jika dewi malam ini muncul.

Jadi, Anda bisa merasakan mandi di terik matahari. Perasaan kontras antara panas dan sejuknya air mandi anda tentu sangat luar biasa. Sebaliknya Anda juga bisa merasakan sejuknya malam dan hangatnya air mandi di saat matahari terbenam, ditambah bonus gemerlapnya sinar bintang. Bahkan di waktu hujan kita bisa mandi dengan air hujan, asal hujan di tempat anda tidak mengandung asam (acid rain)saja.

Ada tambahan keuntungan lain dari kamar mandi terbuka ini.
Ventilasi dan sinar tentu menjadi sangat baik. Kamar mandi menjadi lebih bersih dan lebih mudah membersihkannya.
Bisa juga ditambah dengan dengan feature-feature alamiah seperti tanaman di pot, patung batu atau batu besar asli.

Yang kedua untuk daerah yang luas pandangan lepas ke segala arah. Atau kalau kamar mandinya berada di tempat yang tinggi, sehingga tak ada yang menghalangi pemandangan sekitar. Kamar mandi seolah dibuat di atap rumah kita. Atau di balkon dekat kamar tidur kita yang berada dilantai atas. Tentu kita bisa memanfaatkan kaca-kaca buram atau kisi-kisi penghalang pandangan untuk melindungi privasi kita.

Kamar mandi terbuka semacam ini punya kelebihan lagi: pemandangan hampir ke segala arah, atas, bawah, kiri, kanan dan mungkin depan belakang, ditambah lagi dengan tiupan angin sepoi-sepoi. Jika masih dimungkinkan anda bisa menempatkan semacam dipan untuk dede (berjemur di bawah matahari pagi)sambil membaca koran pagi. Kalau anda mampu tentu anda bisa melengkapi lagi dengan hot tub semacam whirlpool untuk mandi air panas. Tetapi hot tub ini membutuhkan penjelasan tersendiri. Semuanya tentu tetap mengikuti syarat-syarat teknis dan kaidah arsitektural rumah kita supaya jangan terlihat aneh.


KEMBALI KE FITRAHNYA MANDI.
Apakah ide kamar mandi terbuka ini ide yang aneh? Kalau tidak jamak, memang. Tapi kalau aneh sih, tidak. Coba kita pikirkan lagi sejenak. Di masa lalu kalau ingin mandi kita harus mendatangi sumber air seperti sungai, danau, sumur, air terjun yang pada umumnya sama sekali tak menyediakan tempat tertutup. Jadi sebenarnya asalnya memang kita mandi di tempat terbuka. Jadi mandi merupakan kegiatan outdoor
Hanya ketika kemudahan-kemudahan yang datang kemudian memungkinkan air masuk ke dalam rumah kita, kita lalu menciptakan mandi yang tertutup. Kita tidak tahu prosesnya mengapa kemudian kita harus mandi secara sembunyi-sembunyi yang pada akhirnya menjauhkan kita pada saat satu-satunya kesempatan kita untuk bersentuhan dengan alam secara intens, yaitu mandi dengan air alam (tidak ada air sintetis!).

Seperti yang Anda ketahui, iklim di negeri kita memungkinkan kita melakukannya sepanjang tahun. Baik di musim hujan maupun di musim kemarau. Tentunya Anda masih ingat pantun ini, “.........Kalau ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi.....” Mandi di tengah ladang? Betapa nyamannya!
Saptono Istiawan 30 Maret 2005 (pernah dimuat di harian KOMPAS)

Saptono
Ilustrasi kamar mandi dilantai atas atau khusus dirancang diatap. Pemandangan lebih leluasa dan sinar matahari maksimal.

Senin, 12 Mei 2008

BBC, Bahan Bakar Cair

Istilah BBM (Bahan Bakar Minyak) sudah seharusnya diganti dengan BBC ( Bahan Bakar Cair) karena lebih logis dan implikasinya akan mempermudah membangun pengaturan policy Energi/ terutama bahan bakar Nasional.
Kenapa? Karena Bentuk bahan bakar cair adalah bentuk yang paling praktis dalam pengunaanya dan kebetulan pula yang paling mahal. Jadi seharusnya pemerintah hanya menggunakan BBC ini hanya untuk yang memang harus menggunakan ini, tidak bisa lain, yakni kendaraan kendaraan baik darat laut maupun udara. Jangan menggunakan BBC untuk yang sebenarnya bisa menggunakan bahan yang lain seperti Pusat Pembangkit listrik yang semestinya bisa menggunakan BBP ( Bahan Bakar Padat a.l. batu bara) atau BBG ( Bahan Bakar Gas).

Jumat, 02 Mei 2008

BEBAN MOBIL

ilustrasi: Tono
Baru beberapa waktu mendengar dan menyadari bahwa energy yang dibangkitkan oleh mesin mobil hampir semuanya digunakan untuk menggerakan berat mobilnya sendiri.

Tentu saja ini mudah di mengerti berat mobil penumpang adalah rata rata dua ton sementara penumpangnya sekitar 4 kali 70 kg.
Jadi kita menggunakan mesin 1500 cc umpamanya menghasilkan 70 tenaga kuda , yang kita nikmati dan yang sebenarnya kita butuhkan hanyalah sekitar 12 tenaga kuda.

Padahal para pakar transportasi mengatakan bahwa berat mobil bukan satu satunya cara membuat mobil aman dalam kecepatan tinggi, sementara bahan bahan yang bisa membuat mobil bisa jauh lebih ringan dalam rancangannya sudah lama tersedia. Tetapi tampaknya hanya industri pesawat dan alat olah raga yang memanfatkannya.

Apakah industri otomotive sebenarnya sama sekali tidak peka lingkungan kendati klaimnya di iklan iklannya?

Minggu, 13 April 2008

THE DEFENSIBLE SPACE,MENCIPTAKAN RUANG RUANG WASPADA










Oleh Saptono Istiawan

foto Pruitt-Igoe dari sumber Istimewa


Belakangan ini banyak dibangun kawasan rumah tinggal yang berbentuk cluster. Suatu kelompok rumah tinggal dengan batas yang jelas dan hanya punya 1 pintu masuk yang di jaga.Keuntungan dari kawasan macam ini jelas, Keamanan menjadi mudah dikelola karena pada hakekatnya cara ini menyatukan keamanan dari setiap unit bangunan rumah tinggal menjadi satu.Keuntungan lain adalah setiap unit rumah tinggal yang berada didalam cluster tersebut bisa” menanggalkan” pagarnya sehingga ruang luar/ landscape di dalam cluster tersebut terasa lebih lapang tanpa kehilangan rasa aman. Namun sistim cluster ini punya 1 kelemahan pokok yakni keterisolasian dengan lingkungan sekitar.Untuk jangka pendek memang isolasi ini masih bisa ditolerir, atau bahkan isolasi ini memang diinginkan karena lingkungan yang berdekatan memang kurang mendukung kenyamanan lingkungan didalam cluster.Tetapi untuk jangka panjang dan untuk penataan dalam skala kota isolasi ini merupakan pengkotak kotakan social yang tidak diinginkan bagi suatu komunitas kota.
Apakah ada cara lain yang bisa membuat suatu kawasan tetap merasa aman sembari tetap menjaga hubungan langsung dengan lingkungan sekitarnya?Ada . Dan itu disebut sebagai suatu teknologi yang bernama “ the Defensible Space”Disebut teknologi karena sistim ini dikembangkan berdasarkan perdasarkan pengujian suatu teori dengan melakukan penelitian yang mendalam mengenai kawasan-kawasan hunian diseantero AS sehubungan dengan tingkat keamanan yang terjadi.

Apa itu Defensible Space dan latar belakang nya ? :

Pada tanggal 30 Juli 1972 sebuah kompleks perumahan rakyat ( public housing)yang bernama Pruit Igoe di tengah kota St. Louis di Negara bagian Missouri di AS di robohkan hingga rata dengan tanah.Seluruh kompleks yang terdiri dari 30 bangunan berlantai sebelas dan berisi 2780 satuan rumah susun senilai 300 juta dollar itu bukan saja dianggap gagal memenuhi fungsinya tetapi juga berbahaya untuk dihuni. Berbahaya? Bagaimana mungkin sebuah kompleks permukiman berbahaya?Bukan soal kelemahan struktur tetapi kesalahan konsep desain.Bangunan apartemen yang terdiri dari ratusan unit hunian harus memiliki selasar selasar penghubung dan ruang ruang terbuka maupun tertutup yang bisa digunakan bersama.Di Pruit Igoe Selasar-selasar dalam blok apartemen yang dimaksud sebagai tempat interaksi sosial berubah menjadi tempat terjadinya perbuatan kriminal dan kekerasan dan vandalisme dalam segala tingkatan. Tempat bermain yang dirancang sebagai tempat anak mengembangkan diri berubah menjadi tempat remaja mempraktekan kekerasan. Akhirnya pada suatu saat keluarga yang paling miskinpun memilih tinggal dijalanan daripada menghuni apertemen tersebut dan Pruit Igoe menemui ajalnya hanya sekitar 12 tahun sesudah diresmikan.
Seluruh kompleks ini dirancang oleh Minoru Yamasaki pada masa puncak dari apa yang disebut sebagai aliran arsitektur modernism. Aliran ini pada dasarnya merasionalisasi segala aspek aspek perancangan arsitektural sejalan dengan semangat yang dibawa oleh kemajuan teknologi dan industri pada zamannya. Arsitektur modernisme selama lebih kurang satu dekade dimulai dari masa berahirnya perang dunia II mengalami masa keemasan. Sebenarnya banyak apartemen apartemen sejenis Pruit-Igoe dibangun dengan prinsip modernisme dibangun dan berhasil. Cuma bedanya apartemen Pruit Igoe merupakan bagian dari proyek Public Housing yang didanai oleh pemerintah dan dimaksud untuk dihuni oleh masyarakat kelas bawah dimana sangat tidak mungkin untuk menyediakan dana untuk sistim keamanannya. Jadi mirip dengan Rumah Susun Murah yang sedang dibangun besar-besaran di Indonesia.Sementara prinsip prinsip utopis dalam rancangan arsitektur modernism yang berhasil dalam rancangan apartemen untuk kelas menengah keatas berhasil dengan baik pada kenyataannya prinsip prinsip itu berbenturan dengan kenyataan sosial di dunia masyarakat kelas bawah. Kemudian yang tinggal adalah sebuah pertanyaan besar, apa yang harus dilakukan agar tragedi ini tidak terulang? Pelajaran apa yang bisa diambil? Pelajaran itu disimak baik baik oleh seorang arsitek bernama Oscar Newman dalam suatu studi yang dimaksudkan untuk mempelajari kriminalitas dalam kawasan hunian.


Oscar Newman adalah seorang arsitek yang sangat konsern dengan lingkungan social dari suatu kawasan perumahan.Dengan studi yang dilakukan itu Oscar Newman berhasil membangun semacam prinsipPrinsip rancangan buat lingkungan hunian yang disebut sebagai the Defensible Space.Defensible Space adalah rancangan suatu lingkungan hunian yang memperhatikan beberapa unsur fisik/bangunan yang memperhatikan beberapa hal :




1. Teritoriality, yaitu perasaan memiliki dan mengendalikan lingkungan dari suatu kelompok hunian demi rasa aman penghuninya.Perasan memilik ini hanya bisa didapat apabila suatu ruang disekeliling unit hunian punya batas batas jelas.


2. Pengawasan terhadap lingkungan ( Natural Surveillance)=Penghuni bisa langsung mengamati wilayah public yang berada di teritorialnya.


3. Image adalah kemampuan dari rancangan fisik untuk member rasa aman.


4. Milieu,unsur unsur lingkungan yang dapat menunjang keamanan seperti kedekatan dengan pos polisi atau tempat-tempat keramaian.

Intinya adalah sebuah bangunan akan selalu menciptakan suatu ruang/ teritori dengan berbagai tingkat keprivasian yang beragam. Dan Komposisi keprivasian ruang tersebut menentukan seberapa aman bangunan tersebut dari gangguan kriminalitas dan vandalism.Tingkat keprivasian dimulai dari ruang privasi seperti ruang dalam suatu apartemen yang dianggap paling sakral bagi penghuninya, hingga ruang public dimana semua orang termasuk bukan penghuninnya bisa memasukinya dengan bebas. Diantara dua tingkat keprivasian itu ada beberapa level keprivasian antara lain semi privat dan semi public. Defensible space ini penting terutama bila suatu bangunan tingkat banyak ( diatas 10 lantai) dihuni oleh banyak pihak macam apartemen /rumah susun .


Saptono Istiawan SK IAI.


12-25 Des 2007/13April 2008


Dalam versi tersendiri pernah dimuat di harian KOMPAS tanggal 28 Desember 2007 hal 48 dibawah judul : Kawasan Hunian AMAN MANDIRI.








Penjelasan: Ruang publik adalah ruang dimana setiap orang berhak memasukinya tanpa pembatasan dan sebaliknya ruang privasi adalah ruang yang secara prinsip hanya boleh dimasuki oleh pemiliknya.Pengaturan pertemuan antara ruang public dan ruang privat akan menentukan nyaman atau tidaknya suatu kawasan built environment (kawasan terbangun) yang berfungsi sebagai kawasan hunian.

Rabu, 09 April 2008

USAHA KESELAMATAN

foto: Tono
Kapan ya Departemen Perhubungan membuat peraturan yang mengharuskan supaya setiap bokong truk dan kendaraan besar di beri gambar zebra seperti ini.

Saya pikir upaya sederhana ini bisa sangat membantu mengurangi kecelakan karena menambah visibilitas truk truk atau kendaraan berat di jalan raya.

Safety mind masih kurang ya ?

Kamis, 03 April 2008

KOTA SUCI MAKKAH DENGAN PLAZANYA



Oleh Saptono Istiawan
foto oleh Sutomo SS
Bagaimana sebuah kota suci seharusnya? Apakah harus selalu bernuansa sakral di setiap pojoknya? Kota Makkah menunjukan tidak demikian seperti yang saya saksikan ketika saya berkesempatan melakukan perjalanan umroh beberapa waktu yang lalu.



SAKRAL DAN HIDUP

Bangunan Masjid Haram dikelilingi oleh plaza(alun alun )yang sangat luas. Plaza tersebut berfungsi antara lain sebagai ruang antara, sekaligus ruang peralihan yang menghubungkan Masjid tersebut dengan seluruh kota Makkah. Selepas dari plaza yang berlantai pualam putih bersih, kota Makkah sampai batas-batas tertentu terasa seperti kota-kota lainnya di dunia.
Pembangunan, pemeliharaan dan perluasan Masjid Haram sudah dilakukan sejak khalifah syaidina Umar bin Khatab . Namum pembangunan plaza dan sekitarnya untuk mengantisipasi jutaan jemaah haji, baru nyata sekali dalam duapuluh tahun terakhir ini. Terowongan yang menembus bukit bukit granit, fly over, gedung-gedung yang menaungi hotel-hotel, mall dan arcade dan pertokoan biasa. Di siang hari beterbangan ratusan burung dara, di malam hari gemerlapan cahaya lampu-lampu neon. Di pinggir Plaza berderet toko, hotel, dan restoran memenuhi kebutuhan peziarah dan pemukim kota Makkah sendiri. Pusat perbelanjaan tersedia dari yang paling murah dan yang paling mahal. Kios es krim, juice dan keebab berjajar memeriahkan kota ini. Jalan-jalan juga “dilengkapi” kemacetan total pada saat tertentu walaupun sudah dibangun fly over dan terowongan. Dan pembangunan tersebut masih berlanjut, seiring dengan masuknya terus investasi baik dari Kerajaan Arab Saudi sebagai pemelihara Haraiman (Dua tempat suci ummat Islam) maupun dari pihak swasta Saudi maupun asing.



ALL DIRECTIONAL FAITH BEAR MAKKAH

Namun yang membedakan kota Makkah dengan kota lainnya tentu saja adalah keberadaan Masjid tersuci bagi umat Islam di seluruh dunia. Di dalam dan di sekitar masjid tersebut pada bulan Ramadhan ini saja sekitar 2.000.000 muslimin dan muslimah dari seluruh dunia datang untuk melakukan ibadah umrah.
Masjid dan halaman luarnya adalah titik pusat bagi kota Makkah. Duapuluh empat jam sehari sepanjang bulan Ramadhan, kedua tempat itu, Masjid Haram dan halaman luarnya, selalu disesaki oleh sosok-sosok dengan pakaian yang hampir seragam berwarna putih dan hitam. Diluar waktu ibadah ratusan ribu sosok-sosok tersebut berseliweran di plaza melakukan kegiatan duniawi. Namun setiap azan yang dikumandangkan dari 9 menara setinggi 89 meter menandakan saat waktu shalat, tiba-tiba terbentuklah saf-saf yang rapi dan khidmat terfokuskan ke Kabah yang berada di dalam Masjid Haram, bagaikan gelang-gelang raksasa berlapis-lapis.



PLAZA SEBAGAI RUANG ANTARA MULTIFUNGSI

Tapi selepas sholat, plaza yang memisahkan daerah suci dengan daerah sekitarnya, kembali menyaksikan berlalu lalangnya para pengunjungnya.
Plaza yang mengelilingi mesjid Haram mempunyai luas total 86800 m2. Plaza tersebut dibatasi oleh Masjid itu sendiri disatu sisi dan diseberangnya dibatasi oleh segala sarana dan prasarana kota yang antara lain hotel-hotel dari segala bintang, pertokoan dan pusat perbelanjaan dari segala kelas, istana raja. jalan raya, terowongan, stasiun bus.

Plaza ini mempunyai fungsi banyak. Pertama menambah kapasitas tempat ibadah Masjid Haram paling sedikit dengan 170.000 orang(Secara keseluruhan masjid ini bisa menampung 700.000 jemaah).




DECOMPRESSION CHAMBER

Kedua menjadi semacam “decompression chamber “ (pelega tekanan) bagi para jema’ah yang baru keluar atau masuk serentak dari dalam Masjid Haram. Sehingga, bisa menghindarkan kemacetan di ke 95 buah pintu -nya. Ketiga sebagai ruang peralihan antara daerah ibadah dan daerah kehidupan duniawi, sehingga keduanya dapat melakukan kegiatannya masing-masing secara berdampingan dalam jarak yang nyaman. Bahkan pedagang asongan yang datang dari segala penjuru dunia bisa menawarkan dagangannya masing-masing disekitar plaza.Di beberapa tempat berdiri jam besar yang menunjukan waktu setempat dan informasi waktu-waktu ibadah. Jam tersebut juga berfungsi sebagi tempat perjanjian untuk bertemu. Plaza tersebut juga dilengkapi locker tempat penitipan koper untuk umum. Juga dari plaza`tersebut juga ada akses menuju tempat perhentian bus dibawah tanah yang dilengkapi dengan eskalator.




JARAK PANDANG

Fungsi keempat dari Plaza adalah untuk memberi jarak pandang cukup bagi bangunan sebesar Masjd Haram. Jarak pandang diperlukan untuk mendapatkan sudut pandang yang cukup guna mendapatkan kesan visual yang utuh dan memadai.



KOTA NIAGA SEJAK AWAL

Bagaimanapun juga para peziarah tetaplah bagian dari masyarakat yang mempunyai kepentingan-kepentingan seperti masyarakat umum lainnya. Kota Makkah selain memenuhi kebutuhan tujuan ibadah dari pengunjungnya juga tak lalai memenuhi kebutuhan duniawi para pemukim dan peziarahnya. Disamping itu, sejak permulaan sejarahnya, Kota Makkah merupakan kota persinggahan di jalur penting kafilah dari Yaman di dekat samudra Hindia ke pantai laut Tengah di Syria. Kini walaupun setelah belasan abad menjadi kota tersuci bagi umat Islam sedunia Makkah masih tetap menyisakan ciri-ciri keniagaannya.
Saptono Istiawan SK 2 Des. 2003


Pernah dimuat di koran Tempo 20 Agustus 2006

Minggu, 30 Maret 2008

BASILIKA SANTO PETRUS





oleh saptono istiawan

Dari ke kanan : Lukisan Jesus Kristus menyerahkan kunci (kerajaan dunia) ke Santo Petrus oleh Pietro Perugino,Simbol negara Republik Vatikan, seorang pendosa terjepit diantara 2 pediment, Foto Satelit courtesy Google Earth
VIA della CONCILIACIONE
Selepas dari ujung barat Via della Conciliacione, jalan masuk utama menuju Vatikan di bagian barat kota Roma, saya melewati satu garis kuning dan memasuki wilayah negara lain tanpa pemeriksaan imigrasi tanpa pemeriksaan bea cukai. Ya wilayah Vatikan semenjak tanggal 11 Februari 1929 berdasarkan perjanjian Lateran antara pemerintahan Republik Italy dan Tahta Suci ( Kepausan) yang saat itu mendapatkan wilayah mereka saling berhimpit, menjadi sebuah negara berdaulat ditengah-tengah kota Roma. Namun begitu jutaan peziarah dan turis yang masuk ke wilayah negeri ini tak akan mengalami hambatan-hambatan prosedur bila memasukinya dari satu-satunya jalan masuk, kota Roma.
PLAZA BERBENTUK LUBANG KUNCI
Setelah masuk saya langsung berhadapan dengan sebuah alun-alun yang luas disebut sebagai Piazza St. Pietro, sebuah lapangan berpengerasan lantai batu berbentuk lubang kunci (kunci adalah lambang negeri Vatikan) .
Alun-alun besar ini ( kurang lebih 6 hektar) di apit oleh Kolonade (deretan pasangan 372 kolom) dan di titik fokusnya berdiri sebuah obelisk dari Mesir setinggi 25.5 m. Dikiri kanan oblelisk berdiri air mancur yang sangat indah dirancang, salah satunya, oleh seniman terkenal Gian Lorenzo Bernini.

BENTUK PLAZA YANG MENDISTORSI PERSEPSI JARAK
Sejenak saya berdiri diambang lapangan ini berpose sebentar sambil menimbang-nimbang rute mana yang akan saya pilih menuju Basilika Santo Petrus, tujuan utama saya ketempat ini yang berdiri megah di ujung lainnya alun-alun ini.
Saya bisa ambil jalan lurus langsung menuju basilika itu atau saya mengambil rute melalui kolonade tadi yang beratap dan tampaknya lebih nyaman namun agak berkelok karena berbentuk ellips.

SERBA RAKSASA
Dari jauh Fasade dengan 8 kolom raksasa setinggi 50 meter (Collosal Order) dan 4 pilaster (kolom setengah terbenam kedinding) tampak megah dilatar belakangi oleh kubah yang juga raksasa setinggi 117 meter dengan diameter 42 meter. Kubah yang berwarna perak kebiru-biruan ini yang dirancang oleh Michaelangelo mendominasi bukan saja Piazza St.Pietro tetapi juga skyline kota Roma. Saya memilih berjalan mengambil garis lurus melintasi piazza dengan pertimbangan bahwa saya ingin menikmati perubahan suasana sejalan bergeraknya saya mendekati basilika agung tersebut. Kolonade tadi akan saya lewati sepulangnya saja.

PORTA SANTA SETIAP 25 TAHUN
Setelah melintasi piazza ini segera saya memasuki portiko melalui kolom-kolom raksasa tadi dan di dalam ada tiga pintu utama, salah satunya disebut sebagai Pintu suci ( Porta Santa) yang hanya dibuka 25 tahun sekali di hari- hari antara menjelang natal dan Tahun baru.Pintu ini dibuka terakhir pada tahun 2000 yang lalu.
Saya melewati pintu yang di tengah yang desebut Pintu Tembaga (Porta di Bronzo) karya Filarete. Di dekat pintu ini terdapat plakat marmer di lantai yang menjelaskan ukuran-ukuran dari Basilika ini. Melewati pintu ini kita langsung dihadapkan pada 3 deret pasangan kolom yang mengantar kita pada Altar Para Paus (Altar Papals) yang merupakan titik pusat dari basilika ini. Di bawah altar inilah terletak ruangan bawah tanah tempat makam Santo Petrus dan makam ini juga menjadi titik pusat dari kubah raksasa yang berada 130 meter diatasnya. Semuanya sungguh mengagumkan baik karena keindahannya dan ukurannya yang sangat besar. Altar itu sendiri dilindungi oleh sebuah kanopi stinggi 28.5 meter dari tembaga dan dirancang oleh Bernini juga. Altar ini juga dikelilingi oleh ruang-ruang besar diantara kolom kolom raksasa dan disebut sebagai Chapel antara lain Chapel of the Clementine,Chapel of the Column, Chapel of the Choir dll, yang besarnya masing masing hampir sama dengan katedral-katedral lainnya didunia.

ALL SUPERSTARS TEAM LEAGUE
Yang tidak kalah mengagumkan adalah kenyataan bahwa maha karya arsitektur ini dipenuhi oleh ratusan masterpiece dari seniman-seniman yang sekaligus diantaranya juga arsitek arsitek yang turut merancangnya. Memang disini semuanya serba besar, sesuai dengan kedudukannya sebagai gereja utama Agama Katolik sedunia. Para Arsiteknya (masa pembangunannya tahun 1460-1626)merupakan tim superstar dari masa keemasan zaman Renaisans seperti Donato Bramante, Raphael dan Michaelangelo sebagai penyelesainya. Seniman pematungnya tentu lebih banyak lagi. Piazza St. Pietro sendiri dibangun mulai tahun 1667 oleh Bernini termasuk Kolonade dan puluhan patung-patung para santo diatasnya.


Selain karena keindahannya dan kemegahannya dan sejarahnya tentu saja Basilika santo Petrus ini dikunjungi oleh jutaan orang adalah karena posisinya yang sangat penting dalam Agama Katolik. Disini tempat pemilihan, pentasbihan,kediaman,tempat bertahta dan Makam Para Paus. Dan Upacara-upacara dan Misa-misa penting seperti Paskah, Natal dan Tahun baru selalu dilakukan disini oleh ratusan ribu umat Katolik dan juga disiarkan secara langsung ke seluruh dunia.

Saptono Istiawan SK, IAI 19 Agusutus 2006

Sabtu, 22 Maret 2008

LATIN QUARTER WARISAN PESONA KEGAIRAHAN PUBLIK INTELEKTUAL KOTA PARIS


Setiap tempat punya kegeniusannya sendiri, tetapi mungkin tak ada kawasan di kota Paris yang punya genius locci yang lebih kental dari Quartier Latin atau Latin Quarter.




oleh Saptono Istiawan
foto oleh Maurice Dres





Pada pandangan pertama, Anda akan sangat terpesona oleh kecantikan kota Paris ibukota Republik Perancis. Para petugas Dinas Pariwisatanya sering menyebutnya sebagai “Le Carrefour du Europe”, “Simpang Empat Benua Eropa”, karena selain letaknya tepat di tengah benua ini, Paris termasuk kota yang menonjol dibandingkan dengan kota-kota besar tetangganya. Jalan-jalannya, yang kalau tidak disebut rue atau boulevard akan disebut avenue, sesuai dengan tingkatannya dan selalu dilindungi pohon-pohon rindang dan dilengkapi dengan trotoir yang lebar, diapit oleh pertokoan atau Café-Café yang menyiarkan harumnya aroma kopi, asap rokok kegemaran orang Perancis berbau Mediteranean “Gauloise” dan segala macam parfum yang sedang trend atau yang sedang dipromosikan. Puluhan Museum sarat dengan koleksi ternama menanti kunjungan Anda (hari Minggu pertama di suatu bulan, gratis). Belum lagi orang-orangnya yang selain bersikap ramah (namun tidak murah senyum) juga rata-rata berpakaian modis. Dimalam hari Paris benar benar bisa disebut kota cahaya, salah satu julukannya. Lampu lampu taman dan jalan bukan saja bertebaran dimana-mana tetapi ditata dengan apik dengan warna pilihan kuning lembut bagaikan sinar emas.
LA LATIN
Soal transportasi tak usah khawatir, disamping limousine, taxi dan bus tentu ada Métro, istilah untuk kereta bawah tanah kota Paris yang sangat efisien ( setiap hari mengangkut 10 juta penumpang, kecuali kalau ada pemogokan serikat pekerja awaknya )Namun kunjungan Anda belum dianggap mendalam bila belum mengunjungi kawasan Quartier Latin (dalam bahasa Inggris = Latin Quarter). Di brosur-brosur atau di majalah-majalah, imej kota Paris adalah Menara Eiffel. Tetapi bila Anda telah berada di sana, akan terdengar usulan-usulan agar mengunjungi kawasan Quartier Latin sebagai bagian kota yang menyimpan jiwa dan asal usul kota Paris yang sebenarnya. Dan memang kawasan ini termasuk bagian kota Paris yang paling tua.Jadi, di tengah keterpesonaan Anda pada malam-malam di kota Paris, sebaiknya janganlah lupa mengunjungi daerah tersebut. Sebuah kawasan yang meliputi 2 arrondissement (semacam kecamatan) yang letaknya di tepian kiri Sungai Seine atau sebelah selatannya. Disebut Latin Quarter karena di daerah ini terletak beberapa perguruan tinggi ternama seperti Université de Paris dengan La Sorbonne nya dan Ecole des Beaux-Arts .Konon dimasa lalu antara abad ke 13 dan 18, para penghuni daerah ini yang rata-rata civitas academy universitas-universitas tersebut, selalu menggunakan bahasa latin tidak saja di ruang kuliah tetapi dalam keseharian mereka.Kini tentu bahasa Latin sudah tak terdengar lagi di jalan-jalannya. Namun kata latin melekat dan LQ menjadi kawasan yang punya daya tarik khas bagi turis-turis lokal maupun mancanegara.
LA QUARTIER
Berbeda dengan kawasan diseberangnya, “ Le Marais” yang jauh lebih elegan dan tenang, QL bersuasana lebih egaliter, jauh lebih ramai namun punya nuansa intelektual dan punya beberapa catatan masa lalu yang bernuansa anti kemapanan dan selalu mencari-cari pembaruan.
Disamping suasananya memang agak berbeda dengan selebihnya kota Paris, Latin Quarter boleh dibilang kawasan yang menjadi saksi sejarah penting terutama yang menyangkut hal-hal intelektual dan seni tinggi (fine art) dan paham politik tinggi . LQ bagai ditaburi nama nama raksasa di catatan masa lalunya, Sartre, Marx, Gaugin, Debussy untuk menyebut sedikit dari ratusan nama-nama cemerlang. Mulai dari lahirnya aliran seni impresionis hingga yang paling hebat adalah demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa dipimpin oleh Daniel Cohn Bendit di musim panas tahun 1968 menentang kebijaksanaan pemerintah tentang pendidikan. Terulang lagi di bulan Maret lalu namun dalam sklala lebih “jinak” menuntut dibatalkannya Undang-Undang ketenagakerjaan yang baru diberlakukan yang dianggap merugikan kaum muda. Tuntutan mereka akhirnya dipenuhi pemerintah Perancis.Hampir seratus tahun kebelakang terjadi pemberontakan yang lebih parah lagi : Commune de Paris, ketika pada musim panas 1871 beberapa gerombolan warga Paris mengecam Kaisar Napoleon III yang begitu mudahnya menandatangani perjanjian damai dengan syarat-syarat yang memalukan Perancis dalam perang Perancis-Prusia (memang sepertinya musim panas menjadi musim yang cocok untuk melakukan unjuk rasa di Eropa).Bangunan bangunan utamanya seperti Gereja Saint Germain-des-Pres dan Saint Julien, kebanyakan bergaya arsitektur Romanesque warisan tidak langsung dari masa Romawi, berbeda dengan selebihnya kota Paris yang kebanyakan bergaya Klasikisme atau Gothik.Kini, dikawasan ini,terutama di dua jalan utamanya, Boulevard Saint Michel dan Boulevard Saint Germain yang saling bersimpangan di Place (Plaza) Saint- Michel yang di land-marki dengan Fountain Saint Michel, banyak tersedia toko buku (tentu saja!),penjaja lukisan jalan serta berbagai macam restoran dan kafe yang menyajikan suasana etnik dan cita rasa makananan dari segala penjuru dunia.yang bahkan juga menyajikan masakan dari China dan Timur Tengah. Dan di labirin jalan-jalan kecil disekitarnya penuh dengan aktivitas. Dan suasana bertambah meriah di malam hari seperti yang terjadi di Le Bistro Latin - Les Argonautes yang terletak di Rue de la Huchette yang mengkhususkan diri pada masakan Latin dan Yunani. Bunyi pecahan puluhan piring yang dibanting dengan sengaja sepertinya justru untuk memicu kegairahan menyambut datangnya malam di kawasan itu.Dan memang selebihnya adalah suasana kegembiraan dan kegairahan hidup yang katanya hanya berhenti setelah fajar (Nous ouvertons toute la nuit/ kami buka sepanjang malam). Sayangnya saya pulang ke hotel hanya setelah lewat tengah malam!
Saptono Istiawan 20 September 2005 .
Pernah dimuat dlam koran Tempo Minggu beberapa tahun yang lalu

Minggu, 03 Februari 2008

PENGEMBANGAN WAJAH PERTAMA




oleh Saptono Istiawan SK IAI


ilustrasi oleh Saptono
berdasar sketsa Leonardo da Vinci






Ketika seorang bayi lahir kita akan segera ingin tahu mirip siapa dia? ayahnya? ibunya? neneknya? kakeknya?
Dari lahir hingga berusia tiga tahun wajahnya selalu berubah-rubah, kadang seperti ibunya kadang seperti bapaknya, hingga akhirnya mendapatkan wajahnya yang tetap hingga dewasa.
Tetapi apakah anda tak pernah perhatikan bahwa kadang2 wajah seorang anak mirip dengan …..pengasuhnya yang kita sewa sebagai baby sitter atau apalah namanya.
Bagaimana bisa?
Wajah, seperti bagian tubuh lainnya, memiliki puluhan pasang otot yang bekerja berpasangan (kira-kira 34 pasang) . dan konfigurasi otot-otot tersebut secara keseluruhan akan membentuk rupa seseorang yang sebut saja sebagai setting wajah.
Seorang bayi yang baru lahir akan mengembangkan otot-otot wajah tersebut persis seperti dia belajar bicara. Dengan meniru.
Jadi kalau kita melihat seorang ibu berpandang-pandangan dengan bayinya dengan mesra , itu bukan sekedar berkomunikasi kasih sayang, tetapi si bayi sedang belajar berekspresi wajah dan men-set-up susunan otot-otot wajahnya yang pada akhirnya , sedikit banyak, akan menentukan rupa wajahnya secara permanen.
Tentu saja ada bagian bagian yang terbentuk berdasarkan DNA orang tuanya seperti hidung, tulang pipi, rahang, warna kulit, bentuk mata dll. Tetapi otot-otot wajah bagaikan pakaian yang menutupi sebagian paras kita. Ekspresi wajah akan mendominasi rupa seorang manusia.
Bayi malang yang ayah bundanya tak punya cukup waktu untuk bertatapan mesra dengannya akan lebih banyak menghabiskan waktu berpandangannya dengan siapapun yang selalu mengasuhnya, bisa neneknya, kakeknya, kakanya atau…… baby sitter yang mungkin tak ada hubungan darah dengan si bayi.
Barangkali ada baiknya kita mengaca dan menggali-gali siapa dan bagaimana rupa orang yang mengasuh kita waktu bayi.
Wassalam
Saptono Istiawan 22 Maret 2006/27 Maret 2008

Minggu, 13 Januari 2008

KATA KATA ASING YANG SERING DIPAKAI

lihat di : http://tandakala.blogspot.com

Jumat, 11 Januari 2008

ART NOUVEAU DAN ART DECO





oleh Saptono Istiawan


Art Nouveau dan Art Deco adalah dua aliran seni yang muncul dibagian akhir abad 19 dan berlanjut ke paruh pertama abad 20. Aliran seni tersebut mencakup seni grafis ,seni rupa, furniture , interior dan arsitektur. Kedua aliran ini seolah bersaudara . Art Deco muncul segera setelah Art Nouveau tenggelam.Tapi keduanya memiliki akar dan semangat yang berbeda. Namun begitu, keduanya merupakan cerminan dari reaksi masyarakat atas gejolak di zamannya.Dalam hal ini masyarakat diwakili oleh seniman-seniman di zamannya.
Di akhir abad 19 dan awal abad 20 dunia menyaksikan perubahan yang luar biasa dalam bidang sosial dan teknologi. Masa–masa itu, terutama di Eropah adalah masa menikmati kekayaan yang didapat dari negeri-negeri jajahannya di Afrika, Asia, Amerika dan Australia. Perubahan sosial dan kemajuan teknologi merombak pula pandangan tentang seni. Apa yang membedakan keduanya:

Art Nouveau:
Art Nouveau yang muncul di sekitar tahun 1861 di Inggris sering dilihat sebagai pemberontakan atas nilai-nilai Victoria (ratu Inggris waktu itu). Bentuk-bentuk artistik di zaman itu sangat berkiblat pada gaya klasik Yunani Roma yang didominasi oleh bentuk-bentuk geometris primer seperti segi tiga, segi empat, elips dan lingkaran. Para pencetus Art Nouveau seperti desainer William Morris dipihak lain berpendapat bahwa garis lurus dan sudut tegak lurus seperti yang terdapat pada bentuk-bentuk geometris primitif tidak pernah hadir dalam jagat raya ini. Bahkan dalam tubuh manusia dan benda-benda organisme lainnya tidak akan ditemui satupun garis lurus.

Maka para artis art nouveau mengkreasikan suatu bentuk seni yang menghindari bahkan menentang bentuk garis lurus dan sudut siku-siku dan bentuk geometris primitif lainnya.Mereka menciptakan karya-karya yang penuh garis lengkung.
Dibidang grafis dan seni rupa pola-pola desainnya mengadopsi bentuk wanita (muda) dan bunga penuh dengan garis-garis lengkung (undulating). Juga binatang binatang seperti capung dan kupu-kupu yang kebetulan sayapnya punya pola gambar yang sesuai dengan semangat gaya Art Nouveau. Imaje yang terkenal mungkin kap lampu karya Tiffany dari New York yang terbuat dari kaca patri berwarna warni.

Di bidang arsitektur, karya mereka seperti bukan didesain diatas meja gambar, tapi laksana tunas yang muncul sendiri dari permukaan bumi. Beberapa contoh yang amat terkenal didunia adalah Templo Expiatory de la Sagrada Familia ( Gereja Penebusan Dosa Keluarga Suci) di Barcelona (1883- dan sampai sekarang belum selesai)karya Arsitek Spanyol Antonio Gaudi. Kemudian karya arsitek Belgia Victor Horta, satu town house di Rue Americaine, Brussels(1898) yang sekarang dijadikan Museum Horta sejak 1969 .Arsitek Perancis Stephen Sauvestre yang membantu Gustav Eiffel membangun Menara Eiffel juga memberi sedikit sentuhan Art Nouveau pada menara tersebut (dibangun tahun 1887-1889).
Art Nouveau dizamannya memang, dilihat dari kacamata sekarangpun , cukup menggairahkan rasa seni, tetapi bentuk gaya seni ini kurang bisa memenuhi tuntutan zaman yang segera datang kemudian. Revolusi industri menuntut apapun yang diproduksi harus bisa dibuat dalam jumlah besar, dengan biaya yang murah dan dengan kecepatan tinggi. Bentuk bentuk aliran garis lengkung sangat sulit dibuat, mahal, dan lagi memakan waktu. Aliran Art Nouveau ini menghilang pelan-pelan di sekitar tahun 1910. Namun di tahun 1960 an Art Nouveau seperti dihidupkan kembali. Dimasa munculnya generasi hippies art nouveau diadopsi dalam ekspresi ekspresi grafis seperti dalam poster dan dalam cover album rekaman musik mereka karena sangat cocok dengan semangat seni mereka yang sedikit banyak dipengaruhi oleh halunisasi narkotika. Art Nouveau dianggap suatu gerakan kesenian yang amat penting di dunia seni terutama di bidang arsitektur, karena telah mempersiapkan seni modern yang kita kenal sekarang dengan menggusur pengaruh seni yang amat berpengaruh di abad 19.


Art Deco:
Lahir di masa-masa permulaan Perang Dunia pertama (1914) dan masuk ke masa depresi dunia di tahun 30-an, Art Deco membuktikan bahwa semangat hidup justru harus tetap berkobar di masa sulit terutama di bidang seni.
Gaya art Deco adalah penyambutan atas tibanya masa dimana dunia seolah bergerak lebih cepat,lebih banyak dan lebih jauh disebabkan oleh perkembangan teknologi transportasi. Hal tersebut tercermin dari pengadopsian bentuk-bentuk ramping dan streamline. Art Deco juga bisa dikatakan bersumber dari kesadaran akan kebutuhan untuk menyederhanakan bentuk bentuk rumit Art Nouveau.
Tokoh-tokoh yang dianggap sebagai pelopor gaya kesenian Art Deco adalah antara lain perancang pakaian Paul Poiret (1879-1944) dan seorang jauhari dan pengrajin kaca warna bernama Rene Lalique . Di bidang lain seorang produser tari ballet Rusia Sergei Diaghilev juga merancang dekor panggungnya dengan gaya ini.

Anehnya garis-garis menerus Art Deco kemudian berkembang menjadi lebih geometris dan lebih linear ketika objek-objek Art Deco semakin dibuat secara massal. Art Deco menemukan sarana ekspresinya di produk-produk industri seperti lokomotif, radio, jukebox,pesawat udara, kapal pesiar dan juga pencakar langit. Di bidang arsitektur sendiri, desakan ekspresi Art Deco muncul di Chrysler Building di kota New York yang dirancang oleh William van Allen. Juga kita bisa temui gaya ini didalam rancangan interior dari Gedung Radio Music City Hall oleh Donald Deskey juga di kota New York.

Yang menarik adalah, di puncak kegairahan Art Deco inilah bangunan-bangunan publik seperti stasiun, hotel dan lain jenis bangunan , sedang dibangun di Indonesia, Hindia Belanda waktu itu. Maka Art Deco bagaikan wabah atau bagaikan api yang menjalar mencapai negeri kita melalui arsitek-arsitek dari Negeri Belanda seperti Prof.Ir. Charles Proper Schoemaker dengan karyanya Hotel Preanger dan Villa Isola di Bandung, dan Albert Frederik Aalbers yang merancang Hotel Savoy Homan. Jejak Art Deco di Jakarta diantaranya adalah Stasiun Kota (lihat foto diatas)karya arsitek Belanda Johan Lowrens Ghijsels (1882-1947) .



Art Deco berangsur-angsur hilang setelah tahun 1935 namun seperti dihidupkan kembali di tahun 1960-an bahkan di tahun 1973 suatu wilayah di Miami Beach, negara bagian Florida Amerika, ratusan bangunan yang terdiri dari hotel hotel dan bangunan komersial lainnya yang bergaya Art Deco diselamatkan dan direnovasi. Kawasan tersebut kemudian dijadikan semacam suaka Art Deco dan menjadi daya tarik pariwisata.
Sementara di tanah air di tahun 90 an kita bisa menyaksikan semangat dan elemen-elemen Art Deco kembali di adopsi seperti yang terlihat pada Gedung Niaga (Bank Niaga) di jalan Sudirman Jakarta karya biro Arsitek Amerika Kohn Pedersen Fox dibantu oleh kantor Arsitek lokal Wiratman.

GERAKAN PENDULUM
Seperti pusaka keluarga dunia, gaya Art Nouveau dan Art Deco berulang-ulang mendapatkan perhatian dan dihidupkan kembali. Sekarang ini kedua gaya itu paling tidak, selama lebih dari seratus tahun, sudah dua kali dihidupkan kembali baik dengan cara merehabilitasi bangunan atau artefak lama maupun mengaplikasikannya pada gaya arsitektur yang datang kemudian.Disamping itu hanya dengan mempelajari kedua gaya yang muncul berurutan tersebut kita bisa memahami bagaimana suatu gaya kesenian terbentuk dalam suatu aliran sejarah kesenian yang tampaknya bergerak seperti pendulum. Semangat gaya yang baru sepertinya selalu berlawanan dengan semangat gaya yang digantikannya, justru pada saat banyak gaya didunia saling bersentuhan.
Saptono Istiawan IAI 29 November 2004

Pernah dimuat di majalah Proyeksi.

FORUM ROMANUM, jejak jejak arsitektur, jejak jejak sejarah


oleh; Saptono Istiawan
foto Curia : tono
Semua jalan menuju Roma . Tetapi menuju mana jalan jalan di kota Roma itu sendiri ?
Jalan jalan di kota Roma menuju “Forum Romanum” atau dalam bahasa setempat Foro Romano. Sebuah kawasan seluas kurang lebih 12 ha di jantung kota Roma berdekatan dengan Colloseum dan yang kini berfungsi banyak: daya tarik wisata, salah satu world heritage, kawasan arkeologis, dan catatan akar kebudayaan barat.

Sangat mengejutkan sebenarnya dan sedikit mengecewakan mula-mulanya , Forum Romanum ternyata cuma kawasan yang penuh dengan puing-puing bangunan yang sepertinya tak mungkin di rekonstruksi.
Namun Forum Romanum tetaplah sarat dengan jejak jejak sejarah dunia yang tertulis dibuku-buku pelajaran kita . Dipuing- puing gedung senat (Curia) misalnya, disanalah Julius Kaisar ditikam mati oleh orang- orang dekatnya sendiri bahkan oleh anak angkatnya. Caesar menghembuskan nafas terakhirnya dengan kata-kata bersayap : “Kau juga Brutus?” yang diabadikan oleh Shakespeare dalam karyanya “ Julius Caesar”.

Dibangun dimasa Roma berbentuk republik tempat ini adalah merupakan show case keunggulan peradaban Romawi dulu. Suatu tempat yang terdiri dari berbagai fungsi ruang :pasar,majelis, dan bangunan- bangunan ibadah.
Didalamnya sekarang terdapat monumen bersejarah antara lain Kubat(arch) Titus yang dibangun untuk memperingati keberhasilan Roma menaklukan Jerusalem di tahun 70 M. Basilika Maxentius, satu contoh kecakapan rekayasa bangunan Roma yang sangat indah berkubah bentang panjang. Kuil Antonio dan Faustina dari abad ke 2 M yang dibangun oleh kaisar Antonio Pio untuk menghormati istrinya Maharani Faustina. Rumah dan kuil Vestal dimana Vestal membuat api abadi.
Kubat Septimus Severius, dibangun pada masa dekadensi kesenian Romawi. Jalan Sakral “Via Sacra” yang menuju bukit Capitoline, yang selalu diliwati oleh pasukan yang baru kembali dari kemenangan. Kedua gerbang tadi Titus dan Septimus Severius , sekaligus menjadi batas wilayah Forum ini.
Jadi seandainya anda akan berkunjung ke Forum Romanum untuk pertama kali, sebaiknya pelajari dulu sejarah tempat ini dari buku buku turis atau web site nya, agar mendapatkan persiapan perspektip mengenai pentingnya tempat ini. Kalau anda datang begitu saja anda akan sulit membayangkan seperti apa Forum Romanum di masa kajayaannya. Tempat yang penuh dengan puing-puing kuno ini sangat jauh berbeda dengan rekonstruksi film berlatar sejarah Romawi gaya Holywood.
Saptono Istiawan SK IAI

pernah dimuat di majalah Proyeksi beberapa tahun lalu.

Senin, 07 Januari 2008

APARTEMEN BUAT WONG CILIK APAKAH BISA?


oleh Saptono Istiawan
foto: tono


Bisa, asal kita menggali lebih dulu beberapa hal yang terkait dengan apartemen sampai akar-akarnya.
Pertama-tama apa sebenarnya arti kata apartemen sendiri. Apartemen adalah sebuah istilah yang sudah terlanjur berkonotasi hunian mewah. Tapi sebenarnya tidak harus begitu. Rumah-rumah tinggal yang menaungi sebuah keluarga pada awalnya berupa bangunan yang berdiri sendiri. Selama suplai ruang dan kavlingnya masih mencukupi, rumah tinggal yang berdiri sendiri merupakan pilihan wajar dalam membangun. Namun ketika tanah menjadi langka di tengah kota yang semakin membesar dan semakin padat dan harga struktur bangunan membumbung,munculah kebutuhan untuk menghemat ruang, tanah dan struktur bangunan. Beberapa keluarga yang hendak membangun rumah bersepakat untuk menyatukan bangunan-bangunan mereka dalam satu struktur besar, biasanya bertingkat. Untuk mempertahankan privasi dan martabat (dignity) diantara mereka, bangunan besar tersebut dibagi-bagi dan dibuat terpisah sedemikian rupa sehingga setiap unit merupakan tempat hunian independen yang sama sekali terpisah walaupun ada dalam satu bangunan. Setiap unit memiliki dapur, kamar mandi, ruang tamu dan tentu saja kamar-kamar tidur sendiri. Dan setiap unit punya pintu masuk (entrance) sendiri langsung ke ruang publik(jalan) atau semi publik (lobby atau koridor). Menyatu namun terpisah. “ Attached but apart” maka timbulah kata “apartment” untuk masing-masing unit bagian dari bangunan hunian besar tesebut. Kemudian bangunan yang rumah tinggal biasa yang masih dibangun berdiri sendiri disebut sebagai detached (house) sebagai lawan kata attached (houses) tadi. Jadi kata apartment pada dasarnya tak ada hubungannya dengan gambaran kemewahan. Justru nilai penghematannya yang dikejar.
UNSUR ECONOMIC OF SCALE
Jadi sebenarnya kebutuhan suatu ruang atau beberapa ruang terpisah yang berdiri sendiri, untuk menaungi,katakanlah seribu keluarga dengan penghasilan pas-pasan , di satu lahan yang langka di tengah kota, justru lebih dimungkinkan dengan bangunan yang menaungi rumah-rumah yang menyatu tapi terpisah tadi. Semakin banyak semakin besar pula penghematannya , bukan sebaliknya, karena mengikuti hukum ekonomi skala (economic of scale).
PENGHAPUSAN BIAYA TRANSPORTASI
Hal kedua yang perlu kita gali adalah kebutuhan yang sebenarnya dari suatu hunian bagi keluarga kelas bawah di tengah kota. Mereka menghadapi dilema bahwa mereka harus mendekati tempat kerja atau tempat berusaha mereka dalam usaha mengurangi atau menghilangkan biaya transport yang juga selalu meningkat. Maka dari itu mereka perlu tinggal di tengah kota.
JARAK VERSUS HARGA
Tetapi dengan sendirinya lahan di tengah kota jatuhnya justru diluar jangkauan mereka karena sangat mahal dan selalu bertambah mahal. Sesuatu yang tidak mungkin didapat tetapi harus didapat ini menghasilkan pemukiman kumuh di tengah kota yang dibangun di lahan-lahan yang tidak syah. Di bantaran sungai, di ROW (Right of way/ wilayah jalan) jalan kereta api, yang mula-mula terpaksa didiamkan tetapi akhirnya dirasakan menjadi sangat mengganggu penataan kota hingga kemudian harus digusur dengan berakibat munculnya persoalan-persoalan kemanusiaan, sosial, dan bahkan politik.
Inilah hal-hal yang kita ketahui telah mendorong pemerintah untuk terus membuat program rumah hunian susun untuk golongan bawah (yang pada dasarnya bisa disebut apartemen-apartemen) di tengah lahan-lahan yang sedikit tersisa di tempat-tempat strategis di tengah-tengah kota besar di Indonesia. Namun inipun masih menyisakan persoalan mendasar . Rumah susun yang paling sederhana dengan jumlah lantai terbatas antara 4 dan 5 lantai ( untuk menghindari keharusan menggunakan lift) pun masih cukup mahal. Kira-kira berharga Rp.4,365 juta hingga Rp 4,5 juta per meter persegi. Sehingga untuk satu unit apartemen seluas 36 meter persegi saja akan memakan biaya Rp. 157 juta hingga Rp. 162 juta hanya untuk biaya bangunannya saja belum termasuk lahan dan pengurusan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) . Pemerintah yang bermaksud memberi subsidipun akan mengalami beban yang tak tertahankan.
HANDICAP GANDA
Dari penjelasan diatas jelas bahwa hunian layak di tengah kota bagi warga kota kelas bawah punya dua handicap yang amat mendasar : harga bangunan dan harga lahan.
Namun bukan berarti kebutuhan wong cilik ini dibiarkan seperti apa adanya sekarang atau bahkan mereka dihalau kepinggiran kota. Karena biar bagaimana mereka adalah bagian vital dari kelangsungan kehidupan kota. Mereka adalah selain warga yang punya hak tinggal juga merupakan tenaga kerja sesungguhnya bagi jalannya ekonomi suatu kota besar.
Tetapi bagaimana caranya?
PENYEDIAAN YANG ESENSIAL SAJA
Ada jalan keluar dengan dua pendekatan bagi masalah ini. Yakni pertama adalah dengan menyediakan struktur bangunan hanya yang paling esensial bagi hunian rakyat kecil ini.Sedangkan pendekatan kedua adalah pendekatan pemanfaatan lahan negara yang sebenarnya dimaksudkan untuk fungsi publik namun sudah terlanjur terbangun pemukiman kumuh, dan/atau daerah yang sebenarnya tak boleh dijadikan hunian seperti DAS (daerah aliran sungai.
Pendekatan pertama adalah penyediaan bangunan yang sangat esensial saja bagi suatu hunian . Secara filosofis hunian di wilayah Nusantara umumnya adalah lantai/lahan dan atap saja. Luas hunian pun harus ditakar sampai batas-batas manusiawi yaitu 14 m2 per penghuni. Jadi satu keluarga dengan anggota 4 orang cukup mendapat ruang seluas 14m2x4= 56 m2. Ukuran ini sesuai dengan kenyataan bahwa rumah-rumah petak di kota-kota di Indonesia adalah berukuran 5 x 10 meter. Satu hal lagi kebutuhan kamar mandi bisa dipenuhi dengan kamar mandi bersama.
PENGGANDAAN FUNGSI RUANG PUBLIK
Pendekatan kedua adalah soal lahan yang didapatkan dari penggunaan ganda dari fungsi publik. Ruang-ruang yang telah ditetapkan sebagai ruang publik/ hijau diberi satu fungsi lagi buat hunian masal rakyat. Ini bisa dimungkinkan apabila hunian tersebut(dengan beberapa syarat tentunya) dianggap sebagai bagian infra strukrur kota/ bukan zone hunian. Keuntungannya ada dua. Bangunan ini bisa dibangun dengan dana/ anggaran pemerintah untuk infra struktur dan keuntungan kedua adalah ketersediaan lahan tanpa beban biaya untuk mendapatkannya.
Jadi pada akhirnya sebuah apartemen bagi wong cilik bisa dibangun di lahan publik sepanjang lahan tersebut tidak diganggu atau dikurangi.
Daerah hunian ditempatkan di lantai dua keatas. Lantai satu/ lantai dasar dibiarkan seperti apa adanya supaya tetap bisa berfungsi sebagai fasilitas umum atau fasilitas hijau kota.
Bangunannya sendiri berdasarkan pendekatan pertama,dibuat sesederhana mungkin dengan hanya berupa kolom-kolom dan lantai bertingkat antara tiga dan lima lantai, tergantung kondisi lahan dan kebutuhan, untuk mengurangi biaya perancangan, biaya struktur, mempermudah pelaksanaan dan sekaligus mempersingkat waktu pembangunan. Bisa dibuat dari beton bertulang atau baja.
SALURAN AIR BERSIH DAN SALURAN AIR KOTOR
Untuk kesehatan lingkungan dan kenyamanan perlu disediakan saluran air bersih dan saluran pembuangan/ pengolahan air kotor yang menggunakan prinsip “sustainable” (ramah lingkungan) untuk mempertahankan kualitas lingkungan dan untuk menekan biaya operasional kawasan pemukiman ini. Biaya per meter persegi bangunan apartemen ini (termasuk fasilitas saluran-saluran tadi) sekitar Rp. 1,6 juta per meter persegi, sehingga untuk satu keluarga dengan 4 warga yang mebutuhkan “ unit apartemen” dengan luas 56 m2 “hanya” dibutuhkan biaya konstruksi sebesar Rp. 89,6 juta rupiah saja sudah termasuk ruang semi publik untuk lalu lintas didalam bangunan seperti lorong-lorong dan tangga. Kebutuhan dinding pemisah, pintu, jendela dan lain-lainnya diserahkan kepada penyewa penghuni, sama seperti yang terjadi di pemukiman kumuh yang dibangun secara liar, bedanya mereka sekarang tidak perlu membuat atap dan lantai. Disini pada dasarnya pemerintah hanya menyediakan lahan yang “syah” dan atap yang kokoh.
HAMBATAN DARI PRINSIP PENATAAN KOTA
Tentu saja ide semacam ini akan banyak mendapat hambatan dan tentangan terutama soal pemanfaatan lahan publik bagi pemukiman pribadi. Tetapi membangun kawasan pemukiman bagi wong cilik dengan cara ini punya banyak keuntungan yang sifatnya strategis:
Biaya cukup murah namun kualitas terjaga.
Pemerintah/ Pemda bisa mendapatkan lagi (reclaim) lahan-lahan hijaunya seperti bantaran sungai yang sudah terlanjur dibangun secara liar dan kumuh tanpa harus melakukan penggusuran-penggusuran yang selalu terlihat tidak manusiawi atau memang tidak manusiawi.
Karena sifatnya tidak memindahkan/ menggusur penduduk yang sudah terlanjur ada maka dengan mudah pemerintah/pemda akan mendapat dukungan dari mereka dalam pembangunan ini.
PELURUSAN YANG MANUSIAWI
Kawasan kumuh kota dapat dihilangkan tanpa “menghilangkan” penghuninya karena pada dasarnya ini adalah usaha peningkatan/perbaikan wilayah kumuh dengan cara melipat gandakan lahan yang ada tersisa kearah atas (multiplying horizon). Wilayah kumuh walaupun kepadatannya tetap namun kualitas lingkungan jauh meningkat karena munculnya kembali fungsi kawasan hijaunya.

Saptono Istiawan SK IAI (13 Mei 2006- 7 Agustus 2007)

dipublikasikan di KOMPAS 9 Agustus 2007

SYNERGI EKSPRESI DARI PASANGAN BAHAN BANGUNAN



oleh Saptono Istiawan
foto: tono

Setiap dan semua bahan bangunan yang kita gunakan mempunyai karakter sendiri dan secara bersama-sama membangun sinergi karakter . Pemilihan penggunaan dan penanganan dari bahan bangunan tersebut akan menentukan apakah karakter bahan bangunan akan muncul dengan segala kejujurannya,hilang, atau berlaku seperti bahan bangunan lain.
Adalah tugas seorang arsitek untuk mengerahkan segala kemampuannya dalam memilih bahan bangunan yang akan digunakan dalam merancang rumah Anda supaya bahan bangunan tersebut bisa menyumbangkan keindahannya semaksimal mungkin bagi penampilan dan “rasa ruang” . Beberapa bahan bangunan punya semacam pasangan tertentu yang apabila digunakan secara berdampingan atau berdekatan akan menghasilkan efek penampilan yang jauh lebih indah daripada kalau muncul sendiri-sendiri.

Tentu soal keindahan ini bersifat agak relatif. Namun kita tentu dengan mudah dapat ikut merasakan betapa sekeping batu kali pada sebuah dinding umpamanya, akan berpasangan dengan indahnya dengan sekeping ubin keramik berwarna natural (terra cotta). Atau Batu alam akan berpasangan dengan baik sekali dengan kayu yang difinish secara alamiah karena kedua bahan ini sejak awal memang merupakan favorit atau memang satu-satunya pilihan pasangan yang tersedia pada awalnya. Batu yang berkesan berat dan kokoh akan menjadi harmoni kontras dengan kayu yang ringan dan lunak.

Selain bahan-bahan di atas, ada beberapa bahan lain yang juga bisa memperindah sebuah karya arsitektur:
* Batu alam dan kaca
Batu alam dan kaca merupakan pasangan yang serasi yang lebih dramatis lagi kekontrasannya. Batu yang kokoh dan penuh texture akan menjadi kontrasnya kaca yang transparan dan licin. Kilap kaca akan mengimbangi kekayaan tekstur batu.

Kaca dan besi/baja akan memberikan rasa kebebasan yang ekstrim dan sedikit nuansa modern bagi suatu rancangan karena konstruksi baja yang ringan akan cocok sekali dengan bahan kaca yang seolah-olah tak ada.

*Besi dan kayu
Penggunaan besi pada kayu pada mulanya merupakan kebutuhan konstruksi belaka. Lempengan besi dimaksudkan untuk mempermudah sambungan-sambungan pada konstruksi kayu. Namun kemudian ditemukan keindahan tersendiri dari pertemuan antara kayu dan besi. Kemudian sambungan sambungan dari bahan besi pada kayu sengaja dibuat secara artistik saling meningkatkan nilai estetika keduanya.

Dinding batu alam yang mendukung dinding bata yang di ekspos merupakan paduan antara bahan yang bisa dipakai secara mentah begitu saja dengan bahan yang harus mengalami proses pembuatan yang agak panjang dari tanah liat ke bahan tembikar. Ini tentu memberi semacam suatu cerita latar belakang mengenai bagaimana manusia menggunakan kebijaksanaannya dan keterampilan dalam memenuhi segala kebutuhannya.

Demikian juga penggunaan batu alam mentah pada dinding dan batu alam yang digosok mengkilap yang digunakan untuk lantai akan memberi kesan penggunaan dan usaha yang terseleksi secara cermat dalam suatu kebutuhan penggunaan.

Tentu ada banyak lagi bahan yang akan berpasangan dengan manis. Tapi kita juga harus berhati-hati, karena ada juga bahan yang akan “saling mematikan” bila didampingkan, umpamanya bahan batu yang digosok sampai mengkilap seperti lantai marmer dangan lantai bahan keramik berglazur. Kedua bahan ini sendiri sendiri memang punya keindahan masing masing, tetapi bersama tidak akan saling menigkatkan estetikanya.

Di sinilah perlunya pengetahuan dari efek synergi estetika pasangan ini. Dengan mengetahui pasangan bahan tersebut di atas, kita akan lebih mudah membuat suatu thema khusus dari bahan bangunan yang akan kita inginkan bagi nuansa arsitektural . Rumah atau gedung yang dibangun dengan susah payah tentu sebaiknya juga mempunyai nilai arsitektur. Beberapa pengamat dan kritisi arsitektur mengatakan, bahwa jiwa dari suatu karya arsitektur terletak pada detail-detailnyanya. Dan keberhasilan detail arsitektural sangat bergantung pada kepiawaian arsitek dan craftman-nya dalam menangani dan menguasai sifat-sifat dan karakter bahan bangunan yang digunakan. Kepiawaian yang dibutuhkan hampir menyamai kepiawaian seorang pematung atau perupa. Details matter.

Saptono Istiawan SK 20 Mei 2005/ 7 jan 2008

di muat di KOMPAS 17 Juni 2005

Minggu, 06 Januari 2008

THE MATRIX

dalam bahasa Indonesia. telah dipindah ke : http://tandakala.blogspot.com/

THE MATRIX ( English version)

lihat di: : http://uwong.blogspot.com/2008/01/matrix-machine-created-dream-control.html

Selasa, 25 Desember 2007

DARI KEJAUHAN


oleh Saptono Istiawan

Dari kejauhan... jumlah korban hanya angka-angka sekian digit.
Dari kejauhan.... hanya terlihat tayangan gambar-gambar yang mengerikan
Dari kejauhan..... hanya terdengar rekaman lirih jerit-jerit menyayat
.....Tak kan terdengar derum mengerikan angin yang memurka...
....Derum ombak tinggi mengancam cepat....
Dari kejauhan..... tak mungkin tercium bau bau menyesak penderitaan
Dari kejauhan tak akan terasa tekanan tiupan topan
Dari kejauhan……………
......tetapi........Bisakah kita menempatkan diri kita disana
Diantara saudara-saudara yang malang
...Apakah kita bisa membayangkan kalau kita berada disana...
....Apakah kita bisa membayangkan kalau kita yang kehilangan .....
....Apakah kita bisa membayangkan kalau kita sendiri yang hilang………..

Tentang tsunami di Sumatera dan tempat Asia lainnya.

Saptono Istiawan SK 26 Desember 2004

REMEMBER DECEMBER 26,2004

More than thousand days has elapsed and in the wake of the Indian ocean wrathed tsunami there are two big questions ever persist in the traumatic mind of the people living near the sea all over the world , where's the next one be, and when?


This remberance is dedicated for the people of Aceh, whom I always admired so dearly.

selanjutnya lihat di http://uwong.blogspot.com/search?updated-max=2008-03-26T22%3A15%3A00-07%3A00&max-results=7

WALKABLE SPACES



Pengantar:


Anda pro urban sprawl (US) atau anda pro high density (HD)area lengkap dengan bangunan tingginya?


Semua ada kelebihan dan kekurangan masing masing dan punya sejarahnya sendiri sendiri. Dan biasanya para penata kota coba melakukan kompromi disana sini antara US dan HD


Tetapi tampaknya dengan adanya issue penghangatan bumi, urban sprawl mulai dilihat secara lebih kritis.


Bagaimana ceritanya?


Coba baca tulisan ini yang telah dimuat di KOMPAS 7 Des 2007 ybl.







KAWASAN KAWASAN RAMAH PEJALAN KAKI YANG MEMBENTUK KOTA BESAR



Ada kecenderungan baru di Amerika Serikat yang mungkin bisa kita jadikan renungan mengenai lingkungan kota kota kita di Indonesia. Kecenderungan itu adalah mengidamkan dan mengusahakan kawasan kota yang punya kualitas walkability (mudah untuk dijelajahi dengan berjalan kak)seperti yang disebut dalam Yahoo! News baru-baru ini.

Kecenderungan ini tercermin dari hasil survey yang dilakukan oleh the Brooking Institution , sebuah organisasi LSM nirlaba yang didirikan tahun 1916 dan berbasis di Washington DC . Survey ini dijalankan oleh Profesor Christoper B. Leinberger seorang dosen tamu di Institusi tersebut yang juga seorang pengembang properti (developer) yang punya pandangan jauh kedepan.

Leinberger melakukan kuantifikasi kecenderungan untuk membangun lingkungan yang nyaman bagi pejalan kaki dari suatu kota dengan menghitung jumlah kawasan yang mudah di arungi dengan berjalan kaki. Dia menetapkan kriteria-kriteria bagi kawasan yang qualified sebagai kawasan yang “walkable” yaitu :

1. Merupakan suatu kawasan campuran , yakni kawasan yang memiliki zone pemukiman , pertokoan, perkantoran , tempat kerja , fasilitas pendidikan/ kampus dan fasilitas fasilitas kebudayaan dalam suatu wilayah yang bisa terjangkau dengan nyaman dengan berjalan kaki, yang pada prinsipnya juga memikat penghuni dari kawasan lain untuk masuk ke wilayah itu dengan berjalan kaki juga. Jadi harus bersifat inklusif.

2. Sangat mempermudah para pejalan kaki untuk mencapai semua fasilitas dan zone zone di kawasan tersebut.

3. Kawasan tidak memerlukan subsidi besar dari pemerintah federal atau pemerintah Negara bagian untuk memacu pengembangan dirinya.

Kuantifikasi dilakukan dengan menghitung perbandingan antara banyaknya kawasan yang memenuhi kriteria di atas di suatu kota , dengan jumlah penduduk kota yang bersangkutan.

Dari 30 kota terbesar di Amerika Serikat yang di survey, ternyata kota Washington DC, ibukota AS ,merupakan kota yang nyaman bagi pejalan kaki (walkable places) terbanyak.

Washington memiliki 20 walkable places dan kalau dihitung perkapita berarti setiap walkable place melayani 264.000 penduduknya. Kota New York sebenarnya punya walkable places yang lebih banyak yaitu 21 tempat, yang kebanyakan berada di wilayah Manhattan, Tetapi karena New York punya jauh lebih banyak penduduk maka New York gagal menempati ranking pertama.

Survey ini juga mengungkapkan bahwa walkable places terutama tumbuh di kawasan yang dilewati atau memiliki sistim transportasi masal semacam jaringan subway.

Secara keseluruhan, Leinberger yang juga direktur program magister real estate di University of Michigan, berhasil mengidentifikasi 157 tempat ”nyaman jalan” (walkable places) di 30 kawasan metropolitan itu. Dan ternyata kota Tampa di negara bagian Florida merupakan satu satunya kota metropolitan yang tidak punya kawasan ramah pejalan kaki.



Lalu bagaimana dengan kota kota besar di Indonesia? Kecenderungan untuk memanjakan pejalan kaki juga sudah melanda kita sejak lama. Superblok superblok yang bertumbuhan dewasa ini sebenarnya juga merupakan “walkable places” . Superblok merupakan kawasan kepadatan tinggi dengan bangunan bangunan tinggi mixed used yang mengintegrasikan zone hunian , tempat kerja, rekreasi dan tempat belanja . Penghuninya bisa mencapai dengan mudah setiap zone dengan berjalan kaki. Dan dengan demikian hal itu turut menunjang penghematan energi dan membantu pengurangan pencemaran udara di tengah kota. Namun kawasan superblok umumnya masih bersifat eksklusif, karena secara prinsip hanya melayani penghuninya saja. Tentu tidak masuk dalam kriteria Leinberger sebagai kawasan yang amat nyaman buat pejalan kaki yang secara teknis dia sebut sebagai “regional serving walkable urban spaces”( ruang ruang urban yang mudah dijelajahi dengan berjalan kaki dan berfungsi meladeni kebutuhan penghuni kawasannya).

Tapi tak mengapa, setidaknya ada benih benih semangat untuk memanjakan pejalan kaki yang bisa disemai di sini.

Contoh lain yang menunjukan pemihakkan kepada pejalan kaki adalah kawasan kawasan yang tertutup bagi kendaraan bermotor seperti kawasan belanja Pasar Baru di Jakarta Pusat dan kawasan di sekitar taman Fatahillah di Jakarta Utara. Fasilitas transportasi busway dan pembangunan rumah susun sederhana juga merupakan sarana yang potensial untuk menumbuhkan kawasan kawasan seperti ini di pusat-pusat kota Jakarta.

Ini merupakan berita baik bagi penghuni kota kita yang mulai muak dengan semakin tersiksanya mereka atas ketergantungannya pada kendaraan bermotor.

Dalam kesempatan lain dalam bukunya yang berjudul: “ The Option of Urbanism, Investing in a new American Dream” terbitan Island Press -2007, Leinberger mengungkapkan bahwa warga kota AS mulai menyuarakan kecaman kerasnya terhadap kebijakan tunggal penataan kota-kota di AS yang dianut secara ketat selama hampir 6 dekade belakangan ini. Polanya adalah mall strip (deretan mal-mal) dan urban sprawl ( kota yang merambah), yaitu pengembangan kota ke segala arah dalam kawasan kawasan dengan kepadatan rendah dan dengan inti berupa deretan mal-mal. Persis seperti yang dilakukan (ditiru?) di sekeliling kota Jakarta saat ini.

Leiberger menuduh kebijakan yang dianut para pengembang di AS selama ini berakar dari kepentingan industri mobil dan perusahaan minyak. Semua kawasan pinggir kota dirancang agar dapat dicapai dengan mudah dengan kendaraan bermotor ( drivable suburban). Jalan- jalan bebas hambatan dibangun ke segala arah. Underpass dan fly over dibuat di setiap persimpangan dan kalau mungkin setiap penduduk memiliki kendaraan bermotor sendiri-sendiri (one people one engine community). Memang dengan ini kota kota besar mengalami kemajuan yang luar biasa. Tetapi juga dengan harga yang amat semakin tak tertanggungkan. Drivible suburban merupakan penyebab khusus dari kemerosotan komunitas kota. Masyarakat kota terpecah-pecah sesuai dengan kawasan kawasan tempat mereka bermukim, belum terhitung pengkotakkan dalam kelas-kelas pendapatan dan kerusakan lingkungan. Semua ini akhirnya bermuara pada apa yang disebut dengan urban decay (keruntuhan sosial masyarakat kota)di Amerika Serikat.

Sebagai reaksinya, 15 tahun belakangan ini, 138 juta penduduk kota besar Amerika, terutama yang kelas menengah, sedang gencar-gencarnya menyuarakan tuntutan bagi perubahan kebijakan perkotaan secara mendasar.

Mereka mengidamkan suatu komunitas urban yang baru dimana mereka dapat tinggal, bekerja, belanja, berekreasi dan berinteraksi di suatu kelompok kawasan yang terjangkau dengan berjalan kaki (within easy walking distance), karena itu idealnya berada ditengah kota dalam kawasan kawasan yang tinggi kepadatannya.

Kembali ke Indonesia, kawasan pejalan kaki mendapatkan momentum baru berupa isu pemanasan global. Tetapi yang lebih penting lagi sebenarnya juga momentum untuk menata kembali masyarakat perkotaan agar lebih membentuk suatu komunitas sosial yang lebih utuh dan integral.





Saptono Istiawan IAI 5 Desember 2007/26 des 2007
foto google earth: Sebuah contoh mall strip di negara bagian California (Diamond Bar county)




Senin, 10 Desember 2007

THIS CITY IS MADE NOT FOR WALKING




Pengantar: Tulisan ini di inspirasikan dari lagu lama berjudul" These Boots are Made For Walkin'" yang dinyanyikan oleh Nancy Sinatra, Putri terkenal Frank Sinatra ( direkam ulang oleh Jessica Simpson tahun 2004) . Lagu lama yang terngiang ngiang di telinga saya hingga jadilah tulisan ini yang dimuat di Harian Kompas 30 November 2007.

“Kota ini sepertinya dibangun bukan untuk pejalan kaki”.
Mungkin demikian yang terpikirkan oleh para wisatawan atau pengunjung bisnis dari manca negara beberapa hari setelah datang dan tinggal di Jakarta. Tetapi memang benar,sebuah buku panduan perjalanan tentang Indonesia dalam bahasa Inggris menyatakan bahwa di Jakarta hanya para turis yang ingin “menyimak “ Jakarta yang berjalan kaki lebih dari 200 meter.
Sengatan terik matahari khatulistiwa bukanlah alasan sebenarnya dari enggannya warga setempat untuk berjalan kaki bagi jarak yang sedikit jauh. Pohon-pohon di Jakarta sebenarnya cukup rimbun menaungi pedestrian dan jalan mobil yang ada. Alasan sebenarnya justru ada di bawah kaki para pejalan kaki, yaitu jalur pejalan kaki yang kurang nyaman. Kebanyakan jalan jalan disini “gundul” tidak diapit oleh trotoir-trotoir yang pantas untuk dilewati.

Kota Jakarta dibawah almarhum Ali Sadikin ( 1926-2008) mulai membenahi semua jalan jalan di ibukota yang saat itu sangat parah keadaannya. Namun sayangnya sepertinya pada saat itu pejalan kaki kurang diperhatikan kepentingannya. Jalan jalan mobil dipermulus, diperlebar bahkan dibuat banyak jalan baru, namun hanya sedikit sekali disertai fasilitas pejalan kaki yaitu trotoir dan fasilitas pejalan kaki lainnya seperti zebra cross.
Sepertinya semua dana yang ada hanya diperuntukan untuk kelancaran lalu lintas kendaraan bermotor.
Alasannya mungkin dana waktu itu masih terbatas, namun ternyata hal ini berlangsung hingga kini, lebih dari tigapuluh tahun kemudian.

Padahal dalam sistim transportasi suatu kota yang paling penting ternyata adalah pejalan kaki. Karena, setiap permulaan dan akhir pencapaian selalu hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki.
Lebih dari itu jalur pejalan kaki yang memadai mencerminkan sikap pemerintah kota yang memberi kemudahan bagi semua warganya tanpa pandang bulu sambil menumbuhkan semangat persamaan bagi semua warganya.

Berjalan kaki juga setidaknya meningkatkan kontak visual bagi sesama warga yang akhirnya mempermudah saling berkomunikasi. Bandingkan dengan para pengguna kendaraan bermotor yang jarang sekali saling melihat wajah mereka.


Percayakah anda bila jalur pejalan kaki bisa mempengaruhi kemacetan ? Coba nanti bila jalur pejalan kaki yang sedang dibangun di sepanjang jalan jendral Sudirman dan jalan MH Thamrin sekarang ini selesai(sekarang baru sekitar 60% jadi), maka pada jam istirahat seseorang yang hendak makan siang di luar kantornya yang berada di gedung Summitmas misalnya hendak ke suatu tempat makan siang di Graha Niaga maka dia bisa dengan nyamannya berjalan kaki ke arah utara beberapa ratus meter meninggalkan kendaraanya ditempat parkir.

Namun saat ini dia terpaksa menggunakan mobil dan harus berputar di bundaran Senayan kemudian kearah utara dan kembali memutar di Jembatan Semanggi, dengan sendirinya akan menambah jumlah kendaraan lewat di jalan Sudirman yang pasti padat pada jam jam tersebut sekaligus memboroskan BBM dan menyumbang pencemaran udara.

Untungnya beberapa tahun belakangan ini pejalan kaki mulai lebih dihargai seperti yang terlihat pada pembangunan trotoir di sepanjang jalan protokol utama kota Jakarta tadi.
Namun kembali ke judul tulisan ini, apakah secara mendasar kota Jakarta dibangun untuk memanjakan pejalan kaki? Sepertinya butuh suatu studi dan konsep penataan kota tersendiri untuk merealisasikan hal ini.
Kita semua bisa mengharapkan hal ini pada gubernur kita yang baru yang notabene seorang pakar dalam masalah penataan kota. Selamat berbakti buat Gubernur Fauzi Bowo!

Saptono Istiawan SK IAI 10 Agustus/ 6 N0vember 2007